Wednesday, 21 November 2018

Sukses Asian Games 2018, Titik Awal Menuju Olimpiade 2020

Senin, 3 September 2018 — 5:00 WIB
Presiden RI Joko Widodo menyerahkan bonus kepada para atlet dan pelatih yang meraih medali dalam ajang Asian Games 2018 di Istana Negara, Jakarta (rihadin)

Presiden RI Joko Widodo menyerahkan bonus kepada para atlet dan pelatih yang meraih medali dalam ajang Asian Games 2018 di Istana Negara, Jakarta (rihadin)

JAKARTA – Sukses prestasi yang diraih para atlet Indonesia di Asian Games 2018 diharapkan bisa menjadi modal yang positif untuk lebih meningkatkan prestasi olahraga di event yang lebih tinggi menuju Olimpiade Tokyo 2020 mendatang. Hal itu tentu menjadi tugas bersama mulai dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), KOI, KONI, induk-induk cabang olah raga, hingga peran swasta.

Sejak Asian Games di Jakarta pada tahun 1962, ini pertama kalinya kontingen Merah-Putih mampu menduduki posisi lima besar dalam daftar perolehan medali. Dengan perolehan 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu, Indonesia berada di bawah Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Kontingen Merah-Putih bahkan mampu membawahi kontingen Iran, Taiwan, India, Kazakhstan, dan Korea Utara di posisi 10 besar. Itu artinya, jika prestasi ini bisa dipertahankan, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menempati posisi 10 teratas di Olimpiade 2020 mendatang.

“Prestasi kita di Asian Games ini seharusnya bisa menjadi titik awal bagi kita untuk bisa membidik prestasi yang lebih tinggi. Dalam ajang multi event tentunya adalah Olimpiade terdekat, yaitu di Jepang tahun 2020 mendatang, terutama di cabor-cabor olimpik, seperti atletik, angkat besi, bulutangkis. Ini tentunya jadi tugas bersama antara pemerintah, organisasi-organisasi olahraga seperti KOI, KONI, induk-induk olahraga, hingga pihak swasta,” kata pengamat olahraga, Tommy Apriantono, saat dihubungi Poskotanews, Minggu (2/9/2018).

Menurutnya, pemerintah dan para stekholder yang terkait harus bisa menjaga prestasi yang diraih dari caang olimpic dan bahkan harus bisa ditingkatkan lagi mulai dari sekarang pasca berakhirnya Asian Games 2018.

“Contohnya saja seperti dari atletik, siapa yang sangka kita bisa meraih medali perak di nomor estafet 4×100 meter putra atau bulutangkis dari nomor tunggal putra dan angkat besi dari kelas 62 kilogram putra. Pemerintah tentunya harus punya formula untuk bisa mempertahankan orestasi rersebut atau bahkan lebih ditingkatkan lagi,” jelas pengamat dari Institut Teknologi Bandung tersebut.

Ada pun salah satu formulanya menurut Tommy adalah menjaga kebugaran para atlet, pola makan dan latihan yang cukup hingga semangat mereka dalam berprestasi. Terutama bagi mereka yang belum bisa mempersembahkan medali di Asian Games 2018.

“Jangan sampai setelah Asian Games nanti, semangat mereka jutru jadi semakin kendor. Sementara dari segi teknik, para pelatih tentu harus bisa menutupi kekurangan para atletnya lewat pola latihan. Sementara dari segi venue, jangan sampai venue-venue yang baru dibangun untuk Asian Games hanya menjadi monumen. Pengurus atau induk-induk olahraga harus bisa mendatangkan event-event berskala internasional ke Indonesia agar para atlet bisa lebih terasa dan terbiasa melakoni event-event berskala internasional,” tandasnya.

Menurut Tommy, dengan seringnya digelar event-event berskala internasional akan dengan sendirinya membentuk mental bertanding para atlet. Merujuk pada perolehan medali Asian Games 2018 di wilayah Asia Tenggara, Indonesia bahkan jauh meninggalkan Thailand (11 emas, 16 perak, 46 perunggu), Malaysia (7 emas, 11 perak, 17 perunggu), Singapura (4 emas, 4 perak, 14 perunggu), dan Filipina (4 emas, 2 perak, 15 perunggu) yang berada di urutan 20 teratas.

“Kalau untuk kawasan Asia Tenggara, saya rasa itu hanya jembatan saja karena target utamanya adalah Olimpiade 2020 mendatang di Jepang,” tuntas Tommy. (junius/yp)