Tuesday, 25 September 2018

Cina Bantah Bangun ‘Proyek Bodong’ dan ‘Jerat Utang’ di Afrika

Selasa, 4 September 2018 — 18:27 WIB
Presiden Cina Xi Jinping dengan  pemimpin Afrika di Beijing

Presiden Cina Xi Jinping dengan pemimpin Afrika di Beijing

CINA- Presiden Cina Xi Jinping membantah tudingan bahwa pemerintahnya berinvestasi dalam “proyek-proyek bodong” di Afrika.

Dalam pembukaan pertemuan puncak dengan pemimpin Afrika di Beijing, Presiden Xi menegaskan bahwa Cina justru membantu benua itu membangun infrastruktur.

Xi Jinping dalam kesempatan itu menjanjikan tambahan dana $60miliar (lebih dari Rp850 triliun) untuk pembangunan di Afrika.

Cina adalah pemodal terbesar di Afrika yang menyalurkan dana secara bilateral.

Pengamat selama ini memperingatkan negara-negara Afrika telah terperangkap dalam utang pada Cina pada tingkat yang tidak berkelanjutan.

Presiden Xi mengakui, diperlukan pengkajian terhadap kelayakan komersial dari sejumlah proyek dan untuk membuat kerjasama-kerjasama itu lebih berkelanjutan.

“Kerjasama Cina dengan Afrika jelas bermaksud memecahkan kemacetan besar yang menghambat pembangunan,” katanya kepada para pemimpin bisnis menjelang pembukaan pertemuan dua hari itu.

“Sumber daya untuk kerjasama itu tidak dibelanjakan untuk proyek-proyek asal-asalan, tetapi di tempat-tempat yang paling dibutuhkan.”

Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, menyambut baik meningkatnya keterlibatan Cina di benua itu. Ia mengatakan tidak setuju pada tudingan bahwa “kolonialisme baru sedang berlangsung di Afrika sebagaimana ditudingkan sejumlah pihak”.

Pemimpin semua negara Afrika hadir di KTT itu, kecuali kerajaan kecil eSwatini -sebelumnya dikenal sebagai Swaziland- satu-satunya negara Afrika yang tetap mempertahankan hubungan diplomatik dengan Taiwan.

Pemerintah Cina menolak hubungan diplomatik dengan negara yang juga memelihara hubungan diplomatik dengan Taiwan, karena menganggap Taiwan adalah wilayah mereka.

‘Tidak mengikat secara politik’

Berbicara di depan pemimpin Afrika di Balai Besar Rakyat Beijing, Xi mengatakan tambahan dana $60 miliar itu akan terdiri dari bantuan dan pinjaman.

Dana itu akan dialokasikan bagi delapan prakarsa proyek selama tiga tahun ke depan, termasuk membangun infrastruktur lain dan memberikan beasiswa kepada anak-anak muda Afrika, katanya.

“Investasi Cina di Afrika disalurkan tanpa ikatan politik,” tambah Xi.

Dana $60 miliar ini, merupakan tambahan dari bantuan $60 miliar sebelumnya, yang dijanjikan saat KTT serupa pada tahun 2015 di kota Johannesburg, Afrika Selatan.

Selain itu, sejumlah negara miskin yang mendapat pinjaman tanpa bunga, yang jatuh tempo tahun 2018, akan mendapatkan penghapusan utang, kata Xi.

Cina juga akan menyiapkan dana perdamaian dan keamanan serta akan terus memberikan bantuan militer gratis kepada Uni Afrika, tambahnya.

Menurut data China-Africa Research Initiative di John Hopkins University School of Advanced International Studies, Washington, antara tahun 2000 dan 2016, Cina telah menyalurkan pinjaman sekitar $125 miliar (Rp1.800 triliun) ke Afrika.

Dana itu terutama digunakan untuk membiayai pembangunan jalan, sistem kereta api, pelabuhan dan proyek infrastruktur besar lainnya.

Salah satunya, proyek jalur kereta api senilai $3,2 miliar antara ibu kota Kenya, Nairobi, dan Mombasa.

Proyek itu dimaksudkan untuk menghubungkan negara-negara yang terkurung daratan: Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo bagian timur, Rwanda, Burundi dan Ethiopia, dengan Samudra Hindia.

Tetapi proyek tersebut tercemar oleh berbagai dugaan korupsi, dan tudingan dari para ekonom bahwa biayanya terlalu tinggi.

Di sisi lain, menurut sebuah analisis, proyek itu menderita kerugian sekitar $100 juta pada tahun pertama operasinya.(BBC)