Monday, 27 May 2019

Rupiah Terus Melemah, Awas, Harga Pangan, BBM dan Listrik Naik

Selasa, 4 September 2018 — 23:45 WIB
Seorang pegawai memperlihatkan mata uang dolar Amerika Serikat di salah satu tempat penukaran mata uang, Jakarta Pusat,. (toga)

Seorang pegawai memperlihatkan mata uang dolar Amerika Serikat di salah satu tempat penukaran mata uang, Jakarta Pusat,. (toga)

JAKARTA – Perkiraan banyak pihak bahwa nilai tukar rupiah akan menembus batas psikologis akhirnya terbukti karena kini tembus angka Rp15.100/dolar AS. Masyarakat pun mulai cemas.

Ancaman naiknya harga pangan, bahan bakar minyak (BBM), listrik dan barang sudah di depan mata. “Harga pangan pasti naik. Masyarakat harus siap-siap,” kata Salamuddin Daeng, pengamat ekonomi, Selasa (4/9/2018).

Sebab Indonesia sekarang ini sangat tergantung pada bahan pangan impor, seperti kedele, jagung, gula, gandum, beras dan sebagainya . Sehingga dengan naiknya bahan pangan ini akan berdampak terhadap bahan kebutuhan sehari-hari.

Tak hanya harga pangan, ia mengungkap melemahnya nilai tukar rupiah ini juga sangat berdampak terhadap sektor energi, seperti BBM dan listrik. Keuangan Pertamina dan PLN bakal semakin berdarah-darah, karena biaya produksi mereka naik. Kenaikan harga BBM dan listrik akan sulit dihindari.

Buntut naiknya harga BBM juga akan mengimbas ke sektor lain seperti transportasi. Biaya transportasi pasti naik. “Semuanya barang dan jasa akan naik,” ucapnya.

Hal senada juga dikatakan Bambang Haryo, anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra. Bahkan, ia mempertanyakan sikap Presiden Jokowi yang selalu menyatakan melemahnya nilai tukar rupiah tidak perlu dikhawatirkan.

“Padahal kondisi ini sangat memprihatinkan, karena banyak komoditas pangan kita berasal dari impor,” katanya seraya menyebut Indonesia sebagai negara yang terparah terkena dampak perkasanya dolar AS.

BICARA JUJUR

Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Michael Wattimena, mengingatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani akan bahaya krisis ekonomi seperti tahun 1998 .

Michael juga mempertanyakan kenapa di tengah gejolak perekonomian saat ini pemerintah tidak mengajukan APBN Perubahan seperti yang dilakukan tahun 2015 lalu.

“Ibu Menteri juga selalu bilang tekanan terhadap nilai tukar, karena kondisi di negara lain, kayak Turki, Argentina,” tandasnya. “Tolong ini dijelaskan secara jujur Bu Menteri.”

BANTU PEMERINTAH

Menanggapi melemahnya nilai tukar rupiah, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta masyarakat membantu pemerintah mengurangi impor. Ini penting untuk mengurangi defisit neraca perdagangan.

“Tak usah Ferarri, Lamborghini masuk dalam negeri, tak usah mobil besar dan mewah, tak usah parfum-parfum mahal. Tas-tas Hermes. Walaupun tidak banyak, jangan dalam situasi sulit ini, masyarakat luxuries gitu,” kata JK.

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengaku heran dengan sejumlah pihak yang membandingkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS‎, dengan masa krisis ekonomi pada 1998.

“Jangan dibandingkan Rp14 ribu sekarang dengan 20 tahun lalu. Membandingkannya yang fair (adil),” ujar Darmin di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta.

Ia menjelaskan melemahnya rupiah pada 20 tahun yang lalu sangat drastis. Sebelumnya rupiah berada di posisi Rp 2.800 terus menjadi Rp14.000/dolar AS‎.

Menurut Darmin, fundamental perekonomian Indonesia saat ini masih dalam kondisi baik, yang tercermin dari inflasi di kisaran 3 persen dan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. (rizal/johara/bi/st)