Saturday, 17 November 2018

Gagal Dapatkan Anak Tiri Temannya Juga Nggak Apa

Rabu, 5 September 2018 — 7:10 WIB
dia-nggak usah dicari

SEBAGAI tukang besi, Johandi, 35, dari Muba (Sumsel) ini bawananya suka bertangan besi. Gagal memperkosa Farida, 17, anak tirinya, eh yang jadi sasaran justru teman baik si anak. Tentu aja Emi, 17, tak mau jadi sasaran antara. Seusai perkosaan di kebun, dia segera mengaku ke orangtua dan Johandi pun dibekuk.

Ada yang bilang, satu istri itu cukup. Tapi setelah dua bini, jutru kurang. Kok bisa begitu, bagaimana logikanya? Soalnya, yang satu bini tak punya medan studi perbandingan, sedangkan yang dua bini bisa bandingkan ke A dan ke B. Begitu menu B lebih lezat, jadi pengin menu-menu yang lain, dari C sampai D. Itupun, jika ajaran agama membatasi maksimal 4, maunya pejuang selangkangan akan nambah terus.

Johandi warga  Babat Toman, Musi Banyuasin (Muba), termasuk lelaki yang nafsunya mudah mengerucut. Asal melihat perempuan cantik, otaknya langsung ngeres. Benar-benar seperti ayam jago; karena dia lalu berusaha untuk mendapatkannya. Namanya juga jago, biar babon (induk ayam)-nya kabur, tetap dikejar-kejar. Nanti kena-kena di tempat sampah, dan rasanya lega……

Pekerjaan sehari-hari Johandi jadi tukang besi, mengelas apa saja bisa. Bikin pager, teralis jendela, kanopi, semuanya bisa dikerjakan. Yang tak bisa dikerjakan Johandi hanya ngelas mulut politisi tukang nyinyir, baik yang  duduk di partai maupun sudah mengorbit ke Senayan. Pakai las karbid ataupun listrik, Johandi nyerah dah!

Agaknya penghasilan sebagai tukang besi cukup lumayan, buktinya dia bisa koleksi bini sampai empat. Itu pun Johandi merasa belum cukup, masih pengin merasakan menu yang lain. Gudeg udah, sate taichan juga sudah, termasuk gado-gado dan timlo Solo. Sekarang rupanya Johandi ingin pula menikmati karedok atau capjai.

Beberapa waktu belakangan ini selera Johandi justru pada anak tirinya, Farida. Melihat penampilan ABG yang benar-benar sekel nan cemekel, nafsunya selaku mengerucut tiba-tiba. Tapi bagaimana harus menyalurkannya? Sayang, Farida selalu muncul di saat yang tidak tepat.

Beberapa hari lalu peluang emas itu tiba. Farida di rumah saat ibunya tak di rumah. Nah, tukang besi itu mulai bertindak. Saat ABG itu nonton TV langsung disergapnya dari belakang. Farida kabur sambil teriak-teriak minta tolong. Tapi Johandi masih bisa berkelit. “Dia memang sedang stress, bisa teriak-teriak nggak keruwan.” Kata Johandi pada warga.

Ternyata Farida minggat, sudah dicari ke mana-mana tak ketemu. Kemudian Emi sahabat baiknya menawarkan diri untuk membantu mencari. Maka dengan boncengan motor, Johandi-Emi pergi bersama. Waktunya telah malam, habis magrib. Ternyata situasi ini menjadikan Johandi berbalik niat. Bukan lagi mencari anak tirinya, tapi ingin memperkosa Emi.

Maka dengan ancaman senjata tajam, di tengah jalan yang sepi Emi bisa ditarik ke gubuk dan diperkosanya sampai berdarah-darah. Meski sudah diancam jangan cerita ke mana-mana, Emi tak peduli. Dia mengadu kepada orangtuanya dan digelandang ke kantor polisi. “Tiba-tiba nafsu saya tak bisa dikendalikan,” kata Johandi pada petugas.

Waduh, tukang besi “ngelas” ke mana-mana dia! (SP/Gunarso TS)