Tuesday, 25 September 2018

Rupiah Makin Loyo, Apa Jurus Bu Menteri

Rabu, 5 September 2018 — 6:59 WIB
rupiah-dolar-sri mulyani

NILAI rupiah semakin hari semakin rontok, tak berdaya menghadapi kian perkasanya dolar Amerika Serikat. Kalau pun naik, rupiah seperti merangkak. Tapi ketika turun, seperti terjun bebas. Sampai Selasa (4/9/2018), rupiah berada di kisaran Rp14.825 per dolar AS.

Ada yang menyebut kenaikan dolar tidak begitu berdampak.  Siapa bilang ? Teriakan emak-emak soal melonjaknya sejumlah kebutuhan pokok, salah satunya juga akibat perkasanya dolar. Contoh kecil, tempe saja bisa terpukul kalau dolar naik. Soalnya kedelainya masih impor.

Kalau sudah begini, maka Menteri Keuangan Sri Mulyani yang dikejar-kejar diminta pertanggungjawaban. Sebagai wakil rakyat, DPR pun memanggil Sri Mulyani. Di hadapan rapat paripurna DPR RI, Bu Menteri pun menyalahkan faktor eksternal sebagai penyebab.

Menteri Keuangan terbaik di dunia, Sri Mulyani, lalu membeberkan soal gejolak perekonomian global akibat kebijakan ekonomi Amerika, soal normalisasi moneter dan kenaikan suku bunga oleh The Fed, lalu juga perang dagang dengan Tiongkok. Tak semua anggota Dewan paham, tak semua mau menerima penjelasan Bu Menteri.

Seperti Michael Wattimena dari fraksi Partai Demokrat, meminta pemerintah jujur dan transparan menjelaskan soal fundamental ekonomi saat ini. Jangan ada dusta, jangan menyalah-nyalahkan negara lain. Sebagai wakil rakyat, Dewan memang harus berteriak kencang ketika rakyat hidup susah.

Efek domino lemahnya rupiah sudah pasti berdampak pada daya beli masyarakat. Bukan hanya sektor pangan, sektor transportasi pun bakal terpukul. Bu Menteri pasti sudah tahu soal ini.

Yang diinginkan rakyat, bukan alasan global kenapa rupiah terpuruk. Melainkan jurus apa dan solusi apa yang dilakukan pemerintah. Maka, pemerintah diminta jujur sajalah apa yang sedang terjadi, supaya bisa diselesaikan bersama. Eksekutif dan legislatif memang idealnya bersikap komplementer, saling melengkapi. – (Jeng Adri)