Saturday, 20 July 2019

Tidak Ada Jaminan Silat Dipertandingkan di SEA Games Filipina

Rabu, 5 September 2018 — 21:40 WIB
Pencak Silat. (ist)

Pencak Silat. (ist)

JAKARTA – Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Gatot S Dewa Broto menyatakan tidak ada jaminan cabang olahraga (cabor) seperti pencak silat akan dipertandingkan kembali di SEA Games 2019 dan Asian Games 2022.

Padahal, di Asian Games tahun ini, cabang olahraga (cabor) bela diri itu menjadi penyumbang medali emas terbanyak yakni 14 emas bagi Kontingen Indonesia.

“Pencak silat ada di Asian Games 2018 karena kita Indonesia menjadi tuan rumah ajang empat tahunan ini. Sebagai penyelenggara, ada hak untuk memasukkan cabor atau nomor pertandingan. Tapi di Hangzhou, Tiongkok sebagai tuan rumah Asian Games berikutnya (2022) ya suka-suka mereka sendiri,” kata Gatot, Rabu (5/9).

Selain itu, cabor unggulan Indonesia panjat tebing yang meraih 3 medali emas dan paralayang sumbang 2 emas juga tidak tercantum dalam daftar 30 cabor sementara yang dipertandingkan di SEA Games 2019. Begitu juga dengan cabor lain yang juga terancam tidak dipertandingkan, yakni bridge dan jet ski.

“Makanya, kami juga ingin masyarakat teredukasi mengenai cabor apa saja yang dipertandingkan di sebuah ajang multievent. Paling dekat ini ada SEA Games. Kalau pencak silat tidak ada, jangan ada kesan Indonesia di Asian Games bagus tapi di SEA Games tahun depan hasilnya sama seperti di SEA Games 2017 lalu,” ujarnya.

Kondisi ini tentu menjadi kerugian tersendiri bagi Indonesia pada ajang olahraga tersebut. Apalagi prestasi kontingen Merah Putih pada tiga edisi terakhir SEA Games terbilang merosot secara peringkat. Pada SEA Games 2017 Kuala Lumpur lalu, Indonesia mengakhiri kejuaraan di peringkat 5 dengan 38 emas dan di bawah tuan rumah Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura.

Pada edisi sebelumnya di Singapura, tim Merah Putih juga menduduki posisi kelima namun dengan perolehan medali 47 emas. Sementara khusus untuk pencak silat yang diharapkan juga masuk olimpiade, Gatot mengaku tidak mudah pencak silat dipertandingkan karena proses dan syaratnya sangatlah panjang.

Menurutnya, salah satu persyaratan agar pencak silat dapat dipertandingkan dalam olimpiade, yaitu harus terlebih dahulu dipertandingkan dalam kategori cabang olahraga eksibisi pada Olimpiade sebelumnya.

“Sayangnya, pencak silat masih belum terdaftar dalam cabang olahraga eksibisi Olimpiade musim panas di Tokyo tahun 2020. Jadi, kemungkinan pencak silat sudah pasti tidak bisa masuk olimpiade dalam waktu dekat. Pencak silat bisa saja diakui dalam Olimpiade Paris 2024 mendatang, namun dengan catatan harus ada 80 negara anggota National Olympic Committee (NOC) yang mengakui pencak silat,” terangnya.

Tidak berhenti sampai di situ, lanjut Gatot, dari pengakuan 80 negara anggota NOC itu, kemudian diteruskan kepada Kongres International Olympic Committee (IOC). Setelah itu, baru lah pencak silat bisa dipertandingkan di Olimpiade.

Karena itu, Kemenpora bersama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus melakukan upaya-upaya agar cabang olahraga bela diri tersebut dapat diakui dalam ajang olimpiade dengan melakukan road show untuk bisa membuat pencak silat semakin mendunia.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Erick Thohir. Ia menegaskan pencak silat tidak mungkin menjadi olahraga ekshibisi pada Olimpiade Tokyo 2020 karena butuh proses panjang. Ia memprediksi seni bela diri asli Indonesia ini baru bisa dipertandingkan bila Indonesia mampu menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Itu pun hanya pertandingan ekshibisi. Selain itu, Erick mencontohkan cabor selancar air, skateboard, karate, bisbol, dan panjat tebing, menjadi cabang-cabang olahraga baru dalam Olimpiade Tokyo 2020 yang juga membutuhkan proses panjang sebelumnya. (junius/win)