Sunday, 23 September 2018

‘Curhat’ Istri Wartawan Myanmar yang Dipenjara karena Angkat Kasus Muslim Rohingya

Kamis, 6 September 2018 — 20:38 WIB
Pann Ei Mon melahirkan bayi perempuan beberapa hari sebelum vonis untuk suaminya dikeluarkan.

Pann Ei Mon melahirkan bayi perempuan beberapa hari sebelum vonis untuk suaminya dikeluarkan.

MYANMAR– Pann Ei Mon, istri Wa Lone, satu dari dua wartawan kantor berita Reuters yang dipenjara tujuh tahun karena menyelidiki kasus pembunuhan warga Muslim Rohingya, khawatir anaknya yang baru lahir akan tumbuh tanpa kenal siapa ayahnya.

Hal ini ia ungkapkan saat berbicara dengan wartawan BBC.

Pann Ei Mon mengatakan mungkin anaknya tidak akan tahu siapa ayahnya dan tumbuh tanpa menyadari bahwa ayahnya sebenarnya sangat mencintainya.

Suami Pann Ei Mon, Wa Lone bersama sesama wartawan Reuters Kyaw Soe Oo, ditangkap tahun lalu saat membawa serta berkas-berkas dokumen yang baru saja diberikan oleh polisi kepada mereka.

wartawan

Dua wartawan Reuters, Wa Lone (kiri) dan Kyaw Soe Oo (kanan), dihukum penjara tujuh tahun karena menyelidiki kasus pembunuhan terhadap warga Muslim Rohingya.

Keduanya sedang menginvestigasi pembunuhan warga Muslim Rohingya saat ditahan.

Di persidangan keduanya dinyatakan melanggar undang-undang rahasia negara dan dijatuhi hukuman penjara tujuh tahun.

Berikut petikan wawancara BBC dengan Pann Ei Mon:

Apa yang ingin Anda sampaikan ke Aung San Suu Kyi terkait vonid suami Anda?

Saya melahirkan bayi perempuan pertama saya beberapa hari lalu. Ia masih bayi sekarang, tapi saat ia tumbuh nanti, ia pasti akan bertanya siapa ayahnya dan seperti apa wajah ayahnya.

Saya tak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Yang saya khawatirkan adalah saya akan dianggap sebagai satu-satunya orang tua yang ia miliki. Padahal ia punya ayah, tapi mungkin ia tidak akan pernah tahu betapa besar cinta ayahnya kepadanya.

Ia mungkin tak tahu bahwa ayahnya yang memberinya nama, bahwa ayahnya selama ini bekerja keras untuk masa depannya. Saya khawatir, ia akan berpikir bahwa ayahnya tak mencintainya.

Jujur saja, saya tak seperti Aung San Suu Kyi. Secara mental, saya tak sekuat dirinya. Yang saya pikirkan adalah, saya ingin anak saya ini diasuh oleh saya dan suami saya.

Bagaimana Anda menerima kabar tentang vonis suami Anda karena Anda tidak berada di pengadilan saat vonis dibacakan?

Proses hukum ini menjadi beban pikiran. Saya tak bisa tidur, tak bisa makan dengan baik. Dalam keadaan seperti ini saya hanya berdoa.

Pekan lalu, hakim sakit yang membuat pembacaan keputusan ditunda ke pekan ini. Pada hari persidangan, dengan agenda pembacaan keputusan, saya memang tidak hadir di sana. Di rumah saya berdoa agar ada kabar baik.

Saya mengikuti persidangan melalui Facebook Live. Kemudian saya lihat ada seseorang menunjukkan tujuh jari, yang membuat saya langsung terpukul. Saya langsung paham, suami saya dijatuhi hukuman penjara tujuh tahun.

Tak lama kemudian, ada banyak panggilan yang masuk ke telepon saya tapi saya tak tahu siapa yang berbicara di ujung telepon karena pikiran saya kacau. Benar-benar kacau.

Ketika semuanya sudah tenang, saya putuskan untuk mengunjungi suami di penjara. Saya harus mendukungnya. Saya menemuinya di penjara dan kami saling menguatkan. Kami harus kuat menghadapi semua ini.

Ia mengatakan ia akan baik-baik saja di penjara. Ia bilang akan mematuhi semua peraturan penjara dan meminta saya untuk tak lagi mengkhawatirkannya. Tapi saya tahu, ia mengkhawatirkan saya dan anak kami.

Apa yang ia katakan tentang bayi yang baru lahir?

Bayi ini lebih banyak tidur. Ia bangun di malam hari, saya harus mengikuti polanya.

Apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir membuat saya sangat letih. Sekarang saya merasa takut, terutama ketika malam tiba. Saya sering menangis.

Saya sungguh merindukan suami saya. Andai saja ia di sini, ia pasti akan membantu. Saya katakan kepadanya (saat bertemu di penjara) ini semua membuat saya sangat tertekan.

Ia meminta saya untuk kuat, demi anak kami.

Pekan lalu, saat diwawancara, suami mengatakan akan segera menemui anak kami ini. Andai saja itu menjadi kenyataan.

Sekarang, saya tak tahu apa yang harus saya sampaikan. Saya kehilangan kata-kata…