Sunday, 18 November 2018

Dampak Dolar Naik, Perajin Tahu Tempe di Bekasi Kurangi Ukuran

Kamis, 6 September 2018 — 18:47 WIB
Perajin tempe tahu di Bekasi (saban)

Perajin tempe tahu di Bekasi (saban)

BEKASI -Perajin tempe tahu di Bekasi, Jawa Barat mengaku pendapatannya menurun akibat harga dolar naik. “Kedele yang kami beli semuanya impor, jadi harganya ngikutin dolar,” ujar Supriyanto, perajin tempe di Kampung Kalibaru, Desa Tridayasakti, Tambun Selatan.

Selain harga bahan baku pokok tempe dan tahu naik, pihaknya tidak menaikan harga jual, “Kalau pun ada hanya ukurannya saja diperkecil sedikit,” lanjut Supriyanto. Namun menurut dia, selama masih banyak yang membeli, dirinya tetap membuat tempe meski harga kedelai naik.

Hal serupa juga terjadi terhadap beberapa pengusaha tempe tahu. Seperti di Jalan Mawar Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur, Kosim, 55, mengaku kalau saat ini pendapatannya menurun, “Semula setiap bulan, ada pemasukan Rp 5 juta tetapi sekarang hanya Rp 4 juta sampai Rp 3,5 juta perbulan.

Saat ini harga kacang kedelai hampir setiap pekan naik, meski tidak banyak namun kalau terjadi selama sebulan tinggi juga, “Sekarang sudah Rp 765 ribu per kuintal, dibanding sebelumnya Rp 680 ribu per kuintal,” ujar Kosim.

Namun di Bekasi Timur, hampir semua pengusaha tempe tahu tidak menaikkan harga jual maupun mengurangi ukuran tempe yang dijual. Sebenarnya, hal itu bisa saja dilakukan namun ia khawatir pelanggannya akan pergi kalau hal itu dilakukan.

Sedangkan Wahono, 40, sesama pengusaha tempe di Margahayu, mengatakan selain bahan bajku kedelai yang naik, harga plastik pun naik, “Harga plastik untuk kemasan tempe yang hendak dijual juga naik dari Rp 29 ribu/kg menjadi Rp32/kg,”ujarnya. (saban/b)