Tuesday, 13 November 2018

Menyiapkan Tiket Olimpiade

Kamis, 6 September 2018 — 4:52 WIB

Oleh Harmoko

PRESIDEN Joko Widodo tidak hadir langsung dalam penutupan Asian Games 2018. Tapi Presiden sudah menyiapkan rekaman video dalam penutupan itu. Rekaman Presiden yang tampil saat berada di antara pengungsi gempa Lombok, diputar saat penutupan.

Kita semua tahu, sebelum berangkat ke Lombok, Sabtu (1/9) itu, Presiden Joko Widodo bertemu Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach dan Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA) Ahmad Al-Fahad Al-Sabah di Istana Bogor. Isinya, Presiden antara lain menyampaikan keinginan Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade Tahun 2032. Prestasi dan keberhasilan Indonesia dalam Asian Games dirasa mampu menjadi ukuran.

Presiden IOC Thomas Bach menyambut positif. Dengan keberhasilan menyabet 93 medali dalam Asian Games berupa 31 Emas, 24 Perak dan 43 Perunggu setidaknya bisa menjadi fondasi yang kuat bagi Indonesia untuk menawarkan diri sekaligus bersaing dengan negara lain menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Tentu tidak hanya soal keberhasilan meraih medali yang lumayan tetapi juga melayani sekitar 12 ribu atlet dari 45 negara dan ribuan panitia dan jurnalis yang hadir.

Kelak, Indonesia tidak hanya bersaing dengan beberapa negara yang telah mengajukan diri menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 seperti India, Jerman, dan Australia, tetapi juga harus mencontoh negara-negara yang sudah disetujui menjadi tuan rumah. Seperti Tokyo, Jepang pada 2020, Paris, Francis 2024 dan Los Angles, Amerika Serikat pada 2028. Kini Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk olimpiade 2020 di Tokyo.

Kita sadari, ini bukan hal mudah. Semoga saja hal-hal subjektif tidak menimpa Indonesia karena negeri ini pernah memiliki sejarah “kurang sedap”. Indonesia pernah absen di olimpiade 1964 Tokyo, Jepang, karena masalah Ganefo. Begitu juga pada Olimpiade Moskow 1980 sebagai bentuk solidaritas pada AS. Harapan kita ini tidak menjadi beban.

Sejak Olimpiade 1952, Indonesia baru bisa meraih perak pertama pada Olimpiade Seoul, Korea 1988, dari cabang panahan. Di olimpiade berikutnya saat cabang olah raga Bulutangkis masuk Olimpiade Barcelona 1992, Susi Susanti dan Alan Budikusuma bisa meraih emas. Sayangnya pada olimpiade berikutnya di Atlanta 1996 Indonesia hanya dapat satu emas. Bahkan di Olimpiade London 2012, Indonesia tidak mampu merebut satu pun emas.

Kita sepakat dan berharap pencapaian di Asian Games 2018 bisa menjadi awal bangkitnya olahraga Indonesia. Kita harus benar-benar menjadikan ajang Asian Games sebagai ‘tiket’ untuk membidik olimpiade. Tidak hanya menjadi tuan rumah olimpiade, bagi atlet menembus olimpiade pun bukan pekerjaan mudah. Mereka harus melalui sejumlah kualifikasi di turnamen elite agar lolos. Dan harus diingat, prestasi gemilang di Asian Games sesungguhnya bukan ‘tiket bebas hambatan’ menuju olimpiade. Karena lebih dari 50 persen dari total 31 emas yang didapat Indonesia ternyata bukan berasal dari cabor-cabor yang dipertandingkan di Olimpiade, bahkan di Asian Games sebelumnya.

Cabor-cabor Olimpiade seperti balap sepeda, bulu tangkis, dayung, dan tenis, Indonesia hanya meraup enam emas. Sumbangan terbesar emas dalam Asian Games berasal dari pencak silat yang hampir setengahnya. Dari 16 nomor hanya dua yang lolos emasnya. Artinya 14 emas dari nomor Pencak Silat semua direbut atlet Indonesia. Yang menyedihkan cabor atletik dan renang yang menjadi favorit dengan emas yang diperebutkan 48 dan 41 emas Indonesia tidak berdaya.

Perlahan-lahan euforia kesuksesan Asian Games harus mulai dilepaskan dan kembali fokus ke pembinaan. Semua pihak harus saling mendukung. Tahun depan SEA Games ke-30 digelar di Filipina. Kalau Asian Games 2018 bisa menjadi tiket menuju Olimpiade 2032 maka SEA Games harus dijadikan ‘test event’ bagi para atlet pelatih dan semua pihak, agar kembali bersiap dan fokus. Tentu saja semua berharap, usaha maksimal adalah kewajiban dan prestasi gemilang adalah hasilnya. *