Tuesday, 18 September 2018

Ini Pernyataan Politik Kubu Prabowo-Sandi Soal Dollar

Jumat, 7 September 2018 — 22:15 WIB
Prabowo Subianto - Sandiaga  saat umumkan pernyataan politik

Prabowo Subianto - Sandiaga saat umumkan pernyataan politik

JAKARTA – Kubu Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno mengaku lebih tertarik menanggapi perekonomian Indonesia ketimbang membahas Tim Kemenangan Nasional mereka.

Oleh karena itulah, Jumat (7/9/2018) malam di kediaman Prabowo Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Prabowo-Sandi menyampaikan pernyataan sikap politik menanggapi melemahnya rupiah atas dolar.

Sikap politik disampaikan oleh Sandiaga Salahuddin Uno. Turut hadir Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, Sekjen DPP Gerindra Ahmad Muzani, Presiden PKS Sohibul Iman, Politisi PAN Fuad Bawazier, dan Ketua DPP PAN Yandri Susanto.

Dari empat poin sikap politik koalisi Prabowo-Sandi, mereka mengaku prihatin dengan melemahnya kurs rupiah yang sempat menyentuh Rp 15 ribu atas dolar. Mereka sebut kondisi itu berdampak pada perekonomian rakyat kecil karena harga kebutuhan berangsur ikut naik.

“Melemahnya kurs rupiah yang berkepanjangan itu karena lemahnya fundamental ekonomi,” kata Sandiaga.

Untuk mengatasi kondisi saat ini, lanjut Sandiaga, pemerintah harus bertindak tegas salah satunya mendayagunakan ekonomi nasional untuk mengurangi impor pangan dan impor barang konsumsi yang tidak urgen.

Berikut isi pernyataan lengkap sikap politik koalisi Prabowo-Sandi yang langsung dibacakan oleh Sandiaga:

PERNYATAAN POLITIK KOALISI PRABOWO-SANDI, 07 SEPTEMBER 2018

1. Kami amat prihatin dengan melemahnya kurs rupiah yang berkepanjangan yang tentunya memberatkan perekonomian nasional, khususnya rakyat kecil yang cepat atau lambat harus menanggung kenaikan harga-harga kebutuhan pokok termasuk harga kebutuhan makanan sehari-hari rakyat kecil seperti tahu tempe.

2. Melemahnya kurs rupiah di yang berkepanjangan itu karena lemahnya fundamental ekonomi kita yaitu:

A. Defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan (current account deficit)

B. Sektor manufacturing yang menurun dan pertumbuhan sektor manufacturing yang di bawah pertumbuhan ekonomi. sektor manufacturing yang pernah mencapai hampir 30% PDB pada tahun 1997, sekarang tinggal 19% PDB. hal itu tentu mengganggu ketersediaan lapangan kerja dan ekspor kita.

3. Melemahnya fundamental ekonomi ini tidak terlepas dari hemat kami bahwa selama ini terjadi suatu kekeliruan dalam orientasi dan strategi pembangunan ekonomi. Antara lain tidak berhasilnya pemerintah dalam menndayagunakan kekuatan ekonomi rakyat sehingga kebutuhan pangan semakin tergantung pada impor seperti beras, gula, garam, bawang putih, dan lain-lain.

4. Pemerintah perlu lebih waspada dan mengambil langkah-langkah konkrit untuk mengatasi keadaan yang dihadapi antara lain:

A. Mendayagunakan ekonomi nasional untuk mengurangi impor pangan dan impor barang konsumsi yang tidak urgen, bersifat pemborosan, dan barang mewah yang ikut mendorong kenaikan harga-harga bahan pokok.

B. Mengurangi secara signifikan pengeluaran pengeluaran APBN dan APBD yang bersifat konsumtif, seremonial, dan yang tidak mendorong penciptaan lapangan kerja.

Semoga ALLAH SWT akan senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya serta meridoi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. (Yendhi/b)