Saturday, 22 September 2018

Sawah Kekeringan, Petani di Sukabumi jadi Kuli Serabutan

Jumat, 7 September 2018 — 7:43 WIB
Sejumlah petani terpaksa banting profesi lantaran puluhan hektare sawah kekeringan dampak dilanda musim kemarau di Desa Cisaat, Cicurug, Sukabumi.

Sejumlah petani terpaksa banting profesi lantaran puluhan hektare sawah kekeringan dampak dilanda musim kemarau di Desa Cisaat, Cicurug, Sukabumi.

SUKABUMI – Sejumlah petani di wilayah Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ramai-ramai beralih profesi menjadi buruh serabutan.

Mereka terpaksa membanting mata pencaharian lantaran puluhan hektare sawah di wilayahnya tak bisa ditanami akibat kekeringan dampak musim kemarau.

Menurut seorang petani, Pepen Supendi (50), sedikitnya 20 hektare areal pesawahan di wilayahnya kondisinya kekeringan. Dia bersama petani lainnya tak bisa menanam padi karena lahan yang dulunya sawah itu kini dibiarkan dan diumbuhi rumput.

“Ya mau gimana lagi, meski kemarau dapur mah harus ngebul. Jadi kebanyakan petani beralih profesi menjadi buruh serabutan, ngojek, buruh bangunan apa saja untuk menutupi kebutuhan rumah tangga,” ungkap warga Kampung Tenjolaya, Cisaat, Cicurug ini, Kamis (6/9/2018).

Isak (55), warga lainnya menuturkan, kondisi petani beralih menjadi buruh serabutan terjadi setiap tahu, tiap kali dilanda musim kemarau. Pada saat musim kemarau, jangan untuk kebutuhan air pertanian untuk mendapatkan air bersih juga cukup kesulitan.

“Warga di sini untuk memenuhi kebutuhan air bersih, terpaksa mengambil air dari sumber yang jaraknya hingga mencapai 2 kilo meter,” bebernya.

Kades Cisaat, Nanak Sukron mengibaratkan warganya seperti ayam mati di lumbung padi pada saat kemarau ini. Sebab, desanya banyak memiliki sumber air tapi warganya belum bisa menikmatinya.

“Saya ibaratkan ayam mati di lumbung padi. Sebab warga saya harus bersusah payah guna mendapatkan air bersih. Kami berharap Pemkab segera mencarikan solusi agar sumber air dapat dinikmati warga,” tukasnya. (sule/b)