Saturday, 22 September 2018

Dolas AS Pun Mengancam Pengrajin Tahu dan Tempe

Sabtu, 8 September 2018 — 6:49 WIB
warteg karikatur

KETIKA dolar AS sudah mendekati Rp 15.000,- pengrajin tahu dan tempe pun terancam. Di Warung Tegal misalnya, jangan kaget jika nanti tiba-tiba ukurannya menipis seperti silet. Itulah risikonya, jika kebijakan pemerintah bergaya keledai. Sudah tahu orang Indonesia sangat tergantung kedelai, sebagai negara penghasil kedelai kenapa kita terus impor kedelai Amerika?

Ada pepatah lama mengatakan, keledai saja tak mau terperosok dua kali ke lobang yang sama. Tapi pemerintah kita, ketika harga kedelai sering diombang-ambingkan oleh dolar AS, kenapa kita terus bergantung pada kedelai manca? Padahal sebagai negara agraris dan beriklim tropis, kita bisa berswasembada kedelai sendiri. Tapi kenapa produk kedelai kita tak bisa digenjot, sehingga terus bergantung ke luar negeri?

Dirjen Tanaman Pangan Kementan Sumarjo Gatot Irianto pernah mengatakan, produk kedelai Grobogan dari Kabupaten Grobogan Jateng tak kalah kwalitasnya dengan produk Amerika.Untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri sekitar 2,8 juta ton, Kementan membuat skema tanam kedelai dengan total lahan berkisar 2,3 juta hektare dan diperkirakan mampu panen dikisaran 3,2 juta ton. Dengan skema tersebut diharapkan Indonesia mampu swasembada kedelai.

Tapi faktanya, optimisme Kementan itu belum terwujud. Kita terus impor kedelai Amerika. Dan ketika dolar AS mengamuk, pengrajin tahu-tempe yang terpuruk. Jangan-jangan memang seperti kasus beras impor. Yang butuh impor itu bukan pemerintah, tapi importirnya karena mau cari untung gede.

Dalam kondisi normal kedelai impor sekitar Rp 7.000,- kini sudah naik menjadi Rp 7.700,- Maka keuntungan pengrajin tahu tempe pun menyusut 30 %. Jika ini terus berlanjut janganĀ  kaget jika tiba-tiba tempe dan tahu di Warung Tegal bentuknya menipis laksana silet. (Gunarso TS)