Sunday, 23 September 2018

Kemasan Baru Bertaburan Korban Narkotika Berjatuhan

Sabtu, 8 September 2018 — 5:10 WIB

PEREDARAN narkoba di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Tidak saja jumlah pengguna yang terus bertambah, juga jenis baru dengan modus baru. Kemasan  narkotika seperti yang diungkap Badan Narkotika Nasional ( BNN), akhir pekan ini, menyerupai kertas warna – warni berukuran tebal. Ini sangat berbeda, biasanya  berbentuk pil atau tablet, tapi kini kotak – kotak. Bukan itu saja, narkotika kiriman dari Belgia ini bahan dasar racikannya lebih variatif.

Pekan lalu, Mabes Polri juga menemukan narkotika jenis baru dengan nama happy water. Pelaku mengubah bentuk ekstasi dengan kemasan serbuk ke dalam teh sachet. Bukan saja baru kemasannya, kualitasnya juga lebih dahsyat dari ekstasi biasa. Masyarakat awam sangat sulit mendeteksi karena kemasan narkotika menyerupai teh herbal buatan Cina.

Sebelumnya juga sering diungkap narkotika dalam kemasan makanan, permen dengan sasaran anak- anak sekolah.

Ini menandai bahwa jaringan narkoba di Indonesia terus mengalami regenerasi. Jika sebelumnya dilakukan orang dewasa. Kini anak – anak remaja tak jarang menjadi pengedar narkoba dengan sasaran konsumen sampai ke tingkat anak- anak SD. Bahkan, ada dugaan sasaran sudah ditujukan sampai ke tingkat terendah, anak- anak usia 9 bulan.
Jika demikian halnya, Indonesia tidak hanya berstatus darurat narkoba, tetapi darurat menyelamatkan anak- anak bangsa.

Data yang diungkap Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) cukup mencengangkan. Dari 87 juta populasi anak di Indonesia, sebanyak 5,9 juta di antaranya menjadi pecandu narkoba. Mereka menjadi pecandu akibat terpengaruh orang- orang terdekat

Data BNN juga menyebutkan saat ini sekitar2,2 persen dari total 262 juta jiwa penduduk Indonesia, telah terkontaminasi narkoba. Bahkan sebayak 37-40 orang di Indonesia, meninggal dunia setiap harinya akibat dampak buruk narkoba.

Tak heran jika kasus narkoba dari tahun ke tahun terus meningkat. Sepanjang tahun 2017,  baik BNN, Bea Cukai dan Polri telah menangani sebanyak 43 ribu kasus narkoba dengan tersangka 50 ribu orang. Tahun ini diprediksi kian meningkat sejalan dengan makin gencarnya penindakan.

Yang perlu disikapi adalah bagaimana upaya memberantas narkoba dibarengi  dengan makin memaksimalkan hukuman bagi pengedar narkoba.Program rehabilitasi sebagai langkah mengurangi pengguna narkoba, patut diapresiasi. Hanya saja, sebatas mana pecandu harus direhabilitasi/disembuhkan dari tingkat kecanduan. Apakah semua pengguna wajib direhabilitasi. Lantas bagaimana dengan yang sudah menjalani rehabilitasi, kemudian mencadu lagi.

Bahan renungan kita, masih efektifkah pola rehabilitasi saat ini. (*)