Sunday, 23 September 2018

Lady Gaga Tampil Dalam Film A Star Is Born: Sebagus Apa Penampilannya?

Sabtu, 8 September 2018 — 5:52 WIB
A Star Is Born disutradarai dan diproduseri oleh aktor Bradley Cooper.

A Star Is Born disutradarai dan diproduseri oleh aktor Bradley Cooper.

AKTOR Bradley Cooper menyutradarai, menulis dan memproduseri film remake terbaru yang muncul dengan kuat, tapi malah Lady Gaga yang bersinar di peran film besar pertamanya ini.

Sepanjang film A Star Is Born, orang-orang berkeras bahwa bukan bakat yang penting di industri musik, melainkan apakah Anda punya sesuatu yang disampaikan. Tapi pesan itu sangat berisiko untuk disampaikan oleh melodrama yang sebenarnya tak punya banyak hal untuk dikatakan.

Film ini memetakan hubungan yang sulit antara naiknya pamor seorang penyanyi dan turunnya pamor penyanyi lain, dan ini adalah versi keempat dari film yang menggunakan judul serta plot yang sama, sehingga film ini bisa dikategorikan remake dari remake.

Karena tak ada sesuatu yang baru di film ini yang tak ada dalam versi-versi sebelumnya, maka sulit untuk melihat apa sebenarnya alasan yang memunculkan pembuatan ulang kali ini, serta sulit untuk membayangkan film ini selain sebagai ‘proyek ego’ semata.

A Star Is Born disutradarai dan diproduseri oleh aktor Bradley Cooper, yang memerankan seorang bintang rock yang sangat berbakat yang memiliki prinsip kuat tapi juga berkecenderungan menghancurkan diri sendiri. Jika film ini punya sesuatu untuk dikatakan, maka mungkin itu adalah bahwa Cooper pasti bisa menjadi musisi jika karirnya sebagai aktor tak berhasil.

lady-gaga

Dia tak semeyakinkan Kris Kristofferson yang memerankan tokoh yang sama pada versi 1976 bersama Barbra Streisand — mungkin tak mengejutkan, karena dia pernah bermain di The Hangover sementara Kristofferson ikut menulis salah satu lagu hits penting Janis Joplin.

Meski begitu, Cooper tetap menyajikan penampilan kuat sebagai Jackson Maine, seorang bintang rock yang citra koboi era grunge-nya mengingatkan kita akan Eddie Vedder, Neil Young, Johnny Cash dan Jim Morrison, sementara cara bicaranya dengan nada rendah yang tak jelas mengingatkan kita pada Sylvester Stallone.

Kita melihat Jackson untuk pertama kalinya di konser, minum pil dan alkohol sebelum memainkan riff gitar yang sangat keras sampai-sampai membuat kita merasa terhantam.

Semuanya ditumpahkan di atas panggung, dan dia tak punya apa-apa lagi selain denging di telinga akibat cedera dan kebutuhannya akan minuman keras.

Setelah konser, dia datang ke bar terdekat dan bertemu Ally, yang diperankan Stefani Germanotta, atau Lady Gaga. Ally adalah seorang pelayan dan penyanyi serta penulis lagu yang kepadanya sering dikatakan bahwa bentuk hidungnya tak cocok untuk industri musik.

Jackson tak setuju. Saat dia menyanyikan La Vie en Rose, dia ditampilkan lewat serangkaian close-up yang sensual dan intim, sambil Jackson terus menatapnya, matanya berkilau, bingung, dan malu akan betapa dia merasa tersentuh melihat penampilan itu.

Terlepas dari Anda percaya atau tidak tentang cinta pada pandangan pertama, Anda tak bisa menyangkal bahwa hal itu terjadi dalam adegan ajaib ini.

Jackson kemudian mengajak Ally ke bar lain dengannya, dan film ini kemudian menjadi kisah Cinderella, dan sosok Cooper menjadi ibu peri sekaligus pangeran tampan.

Ally menyanyikan beberapa bagian dari lagu yang ditulisnya, dan dia kemudian diterbangkan dengan pesawat jet pribadi ke sebuah konser pertunjukan sehingga dia bisa berduet dengannya di depan puluhan ribu penggemar.

Tak perlu waktu lama sampai seorang manajer Inggris yang jago bicara (Rafi Gavron) memberi Ally janji-janji manis agar mau menjadi artis yang diurusnya. Tak butuh waktu lama pula bagi si manajer untuk membentuk ulang citra Ally menjadi seorang penyanyi pop dengan rambut penuh warna dan koreografi lincah — dan Jackson yang sering mabuk pun tak setuju dengan penampilan itu.

Sosok manajer yang penuh muslihat itu adalah tokoh penjahat yang sangat klisé. Saat dia muncul di layar, naskah film menjadi terasa tak kuat soal detail dan pendalaman karakter.
A Star Is Born sangat berhati-hati dalam menggambarkan malam di mana dua kekasih ini pertama bertemu dan berkeliling kota, namun sesudahnya film ini hanya membahas sekilas perjalanan profesional dan pribadi mereka sampai-sampai kita seolah tengah melihat foto-foto liburan orang. Tak pernah tajam menggambarkan siapa mereka atau apa yang mereka inginkan.

Meski Lady Gaga pasti tahu jauh lebih banyak dari kita soal menjadi bintang pop, film ini mengambang dalam menggambarkan alasan-alasan yang membuat Ally, yang seringnya pasif, menjadi begitu sukses. Atau berapa lama waktu yang dibutuhkan: Mingguan? Bulanan? Tahunan?

Caranya mendaki tangga ketenaran seperti tak melibatkan eksekutif label rekaman, wawancara media atau penggemar yang meminta selfie.

Sementara itu karir Jackson juga sama tak jelasnya, tiba-tiba band pendukungnya hilang tanpa jejak saat dia tak di panggung, dan semua tim manajemennya hanya diwakili oleh satu orang (Sam Elliott).

Hanya alkoholisme Jackson yang terasa cukup meyakinkan dan menyakitkan serta bersumber dari dunia nyata, dan bukan hanya mengambil inspirasi dari kisah-kisah buruk di dunia hiburan.

Meski mengecewakan, tapi A Star Is Born punya beberapa momen yang penting.

Sebagian besar lagu-lagu di dalamnya ditulis oleh Gaga, dan lagu balada terakhirnya pasti akan mendapat nominasi Lagu Terbaik di Oscar, dan jelas mereka ingin menyasar penghargaan itu.

Gaga mungkin akan mendapat nominasi aktris terbaik. Dia begitu menarik, terbuka dan membumi dalam peran film besar pertamanya, dan sesudahnya dia bisa memilih film gangster atau komedi romantis yang akan ditawarkan padanya.

Setidaknya, seorang bintang telah lahir di dunia film. (BBC)