Wednesday, 21 November 2018

Guru TK Menuntut Dinikahi Malah Dicekik Sampai Mati

Senin, 10 September 2018 — 6:10 WIB
seret

MAU jadi praktisi selingkuh, tapi hanya mau enaknya saja; itulah kelakuan Suprapto, 50, dari Kaltim. Giliran janda Kaswinah, 47, menuntut dinikahi secara resmi, malah muter-muter kayak gasing. Ributlah mereka di ranjang, sehingga saking emosinya Suprapto tega mencekik Guru TK itu sampai meninggal.

Bagi orang tak beriman, selingkuh sepertinya sudah menjadi kebutuhan pokok sebagaimana sembako. Buktinya, tiap hari ada saja praktisi selingkuh wajah baru. Kapok satu, muncul seribu petualang baru. Maka kolom ini tak pernah kehabisan bahan, meski motifnya banyak yang itu-itu melulu.

Suprapto warga Tanah Grogot Kaltim, diam-diam punya WIL, janda Kaswinah yang sehari-hari jadi guru TK. Di mata Prapto, selain cantik janda satu ini juga sangat penyabar dan ngemong. Namanya juga guru TK, apapun perilaku Prapto dianggapnya lucu saja, meski lelaki ini bocah kelahiran 50 tahun lalu. Misalkan Prapto tidur di rumahnya, pasti dipesan, “Hayo cuci kaki dulu, baru naik ke ranjang!”

Itu beda sekali dengan perlakuan istrinya di rumah. Sikapnya tidak sabaran dan tak pedulian. Ibarat sebuah produk, karena sudah laku di pasar tak mau lagi menjaga mutu. Prinsip Ny. Prapto sekarang, “Mau ya begini, nggak mau juga begini. Repot amat”
Padahal maunya Prapto, meski repot urus anak juga rajin bersolek, sehingga suami terus bergairah sepanjang waktu.

Memang, sejak repot mengurus anak, istri Prapto tak jaga penampilan. Bila ketika masih gadis nampak selalu wangi, kini malah berbau berambang dan minyak jelantah, karena banyak di dapur. Akhirnya Prapto sebagai suami setiap mau mendekati jadi ngedrop duluan, laksana listrik PLN, dari 220 volt jadi 110 volt saja, seperti listrik jaman Orde Lama.

Maka begitu ketemu guru TK Kaswinah, hasrat Prapto menyala-nyala terus. Setiap ketemu Bu Guru, pasti mengajak ngamar. Kadang di hotel, kadang di rumah Kaswinah sendiri. Jika sampai menginap, bangun tidur Prapto terus mandi. Habis mandi menolong Bu Guru, membersihkan tempat tidurku…..

Pendek kata, punya WIL bu guru TK seneng terus, meski tak harus nyanyi “balonku ada lima.” Tapi bagi Bu Guru, di balik keceriaannya tersimpan duka yang paling dalam. Masak hubungannya dengan Suprapto hanya sebatas buka aurat tanpa dilindungi surat, menikah maksudnya.

Padahal syarat Kaswinah tidak terlalu muluk-muluk. Dipoligami juga siap, sepanjang Prapto mampu berlaku adil pada istri-istrinya. Nah, yang begini ini Prapto tidak siap. Kaswinah siap saja dimadu, tapi istri pertama mana mau punya pesaing dalam rumah tangganya.
Karenanya, setiap Kaswinah mendesak, dia bilang: sabar, masih dalam proses! Maksudnya, proses perceraian dengan istri.

Padahal sesungguhnya bagi Prapto, tantangan paling berat untuk poligami adalah, kemampuan financial yang sangat terbatas. Buat ngempani anak istri di rumah saja pas-pasan, kok mau pelihara bini muda segala. Apa kata dunia? Salah-salah malah diledek, “Payah lu, kuat di onderdil, tapi materilnya loyo.”

Minggu lalu kembali Prapto mengunjungi gendakannya tengah malam. Tapi ketika diajak kencan, Kaswinah menolak dengan alasan kepastian untuk nikah dulu. Seperti yang sudah-sudah, Prapto menjawab: masih dalam proses. Kali ini habis sudah kesabaran bu guru TK, sehingga ngomeli Prapto sebagai lelaki ingkar janji, kalah dengan burung merpati.

Malam-malam ngomel dengan suara keras, Prapto khawatir jika omelan WIL-nya terdengar tetangga. Langsung saja Kaswinah dicekik lehernya, sehingga diam seketika. Tapi ternyata cekikan itu terlalu keras, sehingga kehabisan napas dan tewas. Untuk menghilangkan jejak mayat sang WIL dibuang ke ke parit di Desa Sungai Tuak, Kecamatan Tanah Grogot. Lima hari kemudian baru ditemukan dan berdasarkan saksi-saksi Suprapto ditangkap dan dijadikan tersangka tunggal.

Nyekiknya kira-kira dong, Coy! (JPNN/Gunarso TS)