Sunday, 18 November 2018

Ulama Tajik Sisihkan Sedekah Umat untuk Mendirikan Lagi Patung Lenin

Senin, 10 September 2018 — 7:10 WIB
patung-lenin

TAJIKISTAN– Asia Tengah dihebohkan oleh kabar bahwa sekelompok ulama di Tajikistan selatan menggunakan dana yang diperoleh dari sedekah para umat untuk memperbaiki patung Lenin, tokoh komunis Rusia pemimpin Revolusi Bolshevik yang selama 70 tahun memaksakan ateisme di negara mereka.

Para khatib dan imam di masjid-masjid di Shahritus itu menghabiskan hampir seluruh sumbangan jemaah untuk mengembalikan patung Lenin ke tempat semula di pusat kota, setelah dua tahun lalu dirubuhkan, lapor Radio Liberty Radio Ozodi.
Patung itu sudah dicat ulang dengan disepuh emas, dan bagian tangannya yang hilang telah pula diganti.

Mehriniso Rajabova dari Dewan Kota Shahritus mengatakan, semua itu merupakan prakarsa para imam sendiri. “Mereka memperbaiki patung itu. Mereka sudah pula membersihkan taman di sekitar lokasi monumen, serta memperbaiki air mancurnya,” kata Rajabosa kepada radio Ozodi.

Seorang imam yang diwawancarai Radio Ozodi enggan berbicara tentang jumlah uang yang telah dihabiskan, tetapi mengatakan bahwa setiap masjid setiap pekannya dana yang terkumpul dari sumbangan jemaah, mencapai sekitar Rp14,5 juta.

lenin

Patung Lenin di Shahritus, Tajikistan, sebelum dirubuhkan pada 2013.

Kabar itu memicu berbagai reaksi di media sosial, sebagian di antaranya mengungkapkan kebingungan, bahkan hujatan.

“Mereka bukan ulama, mereka penyembah berhala,” tuduh seorang warga yang berkomentar di situs Ozodi. Ada pula yang mengatakan dana itu seharusnya digunakan untuk “membantu orang miskin”.

Tetapi sebagian segera membandingkan keadaan Tajikistan saat ini dengan standar hidup di bawah pemerintahan Soviet dulu.

“Mereka melakukan hal yang benar. Jika bukan karena Lenin, semua orang Asia Tengah akan masih buta huruf seperti di Afghanistan,” tulis seorang yang menyebut dirinya ‘Muhojir’.

Ada juga pengguna media sosial yang mengatakan, lebih baik mengakui masa lalu negara itu. “Pemimpin atau bukan, ini adalah sejarah kita, dan anak-anak kita perlu mengetahuinya,” tulis seorang warga yang berkomentar di situs berita Ozodi.(BBC)