Saturday, 17 November 2018

Badai Florence Mengancam Amerika, Warga Bersiap

Selasa, 11 September 2018 — 17:19 WIB
Warga di sebuah toko peralatan di Myrtle Beach, South Carolina, yang kemungkinan akan dilalui badai Florence.

Warga di sebuah toko peralatan di Myrtle Beach, South Carolina, yang kemungkinan akan dilalui badai Florence.

AMERIKA– Presiden AS Donald Trump mengeluarkan serangkaian peringatan agar warga mempersiapkan diri menghadapi Badai Florence, yang makin menguat dan akan segera menghantam Carolina.

Trump mencuit bahwa ini akan menjadi “salah satu badai terburuk yang menerjang Pantai Timur dalam beberapa tahun”.

Florence merupakan badai Kategori Empat, dengan angin bertiup konstan dengan kecepatan sekitar 220km/jam.

Dilihat dari jalurnya saat ini, topan badai ini diperkirakan menghantam daerah sekitar Wilmington, North Carolina, pada Kamis (12/9) malam waktu setempat atau sekitar Jumat pagi waktu Indonesia.

Pihak berwenang telah mengeluarkan ketetapan yang mewajibkan evakuasi di South Carolina, North Carolina dan Virginia, yang berdampak pada lebih dari satu juta orang.

Gubernur Carolina Selatan Henry McMaster memerintahkan penduduk di wilayah yang akan dilewati badai untuk mengungsi, maksimum pada Selasa tengah hari.

Universitas North Carolina di Wilmington juga memberlakukan evakuasi wajib bagi para mahasiswa.

Dalam maklumat terbaru pukul 23:00 waktu setempat (10:00 WIB), Pusat Badai Nasional mengatakan: “Diperkirakan akan ada peningkatan daya kekuatan badai selama 36 jam ke depan, dan Florence diperkirakan akan menjadi badai besar yang sangat berbahaya sepanjang Kamis.”

Dikatakan badai akan “meluas hingga 65 km dari pusat topan dan angin badai tropis (akan) membentang melebar hingga 240km”.

Laporan pukul 23:00 menyebut Florence berposisi sekitar 750km tenggara Bermuda dan bergerak dalam kecepatan sekitar 20 km/jam.

Ini berarti, Florence akan melintasi Bermuda dan Bahama pada hari Selasa dan Rabu, serta menerjang pantai North Carolina pada hari Kamis sekitar pukul 22:00 waktu setempat.

Kepala ahli meteorologi untuk WCBD-TV di South Carolina, Rob Fowler, mengatakan kepada BBC bahwa Florence adalah badai yang akan terus membesar. Dia menyebut, mereka yang berada 100 km jauhnya pun, masih akan merasakan dampaknya.

Fowler menambahkan, hujan lebat dan angin kencang diprediksi mengancam daerah-daerah seperti Charleston, yang hanya beberapa meter di atas permukaan laut.

Florence disebut bisa lebih kuat dari Badai Hugo tahun 1989 yang menewaskan 49 orang dan mengakibatkan kerusakan senilai $7 miliar (Rp100 triliun).

Sekolah di daerah yang terkena dampak akan mulai ditutup pada hari Selasa dan jalur lalu lintas di beberapa jalan raya akan dialihkan untuk membantu evakuasi.

“Kita tidak akan mempertaruhkan nyawa rakyat Carolina Selatan,” kata McMaster.

Kantor Gubernur Virginia Ralph Northam memperkirakan terjadinya “bencana banjir, angin kencang dan kemungkinan pemadaman listrik yang meluas”.

Curah hujan disebut bisa mencapai hingga 50 cm di beberapa area, atau bahkan lebih buruk.

Direktur Pusat badai Nasional, National Hurricane Center, Ken Graham mengatakan kepada kantor berita Associated Press: “Bukan hanya pantai. Ketika badai mengulur seperti ini dan bergerak sangat lambat, hujan juga bisa mengguyur ke daerah yang jauh lebih luas.”

Kejadian seperti itulah yang tahun lalu menyebabkan kehancuran besar di Texas ketika Badai Harvey melanda.
‘Tak ada berhentinya’

Presiden Trump telah menandatangani persetujuan untuk pemberlakuan keadaan darurat di Carolina dan mengatakan dia telah berbicara kepada para gubernur dari negara-negara bagian yang akan terkena dampak.

Dia mengirim lima cuitan dalam rentang dari empat jam memperingatkan orang untuk memperhatikan petunjuk keselamatan:

Di sisi lain, Angkatan Laut AS mengirim 30 kapal yang ditempatkan di Virginia, guna membantu evakuasi.

Adapun, mempersiapkan diri saat badai datang, warga di daerah yang diprediksi terkena dampak, menyerbu toko-toko membeli persediaan kebutuhan pokok.

Seorang manajer toko perangkat keras John Johnson mengatakan kepada kantor berita Agence France-Presse bahwa banyak orang membeli baterai, senter, terpal plastik dan karung pasir di tokonya di Charleston.

“Dari pukul delapan sampai pukul dua mereka memenuhi toko. Tak ada berhentinya,” katanya.

Seorang penduduk, Deborah LaRoche mengatakan kepada AFP: “Tidak penting apa yang terjadi dengan badai sebelumnya. Yang ini berbeda.”

Tidak hanya toko, pompa bensin pun kehabisan persediaan.

Curtis Oil, distributor bahan bakar di Chesterfield, Carolina Selatan, mengatakan mereka “kewalahan oleh permintaan dari lembaga-lembaga negara dan semua orang lain” (BBC)