Tuesday, 18 September 2018

Tips Pencitraan: Berdebatlah Agar Terlihat Pintar

Selasa, 11 September 2018 — 8:25 WIB
Mayoritas orang menghindari perdebatan, yang disebut justru dapat mempertajam pemikiran.

Mayoritas orang menghindari perdebatan, yang disebut justru dapat mempertajam pemikiran.

INGGRIS- “Saya yakin Anda akan sepakat dengan saya, bahwa setiap manusia umumnya menghindari konflik. Kita menghabiskan sebagian besar waktu untuk menjalin hubungan dengan orang lain,” kata profesor ilmu tutur di Universitas Loughborogh, Liz Stokoe.

Bahkan ketika kita memiliki pandangan berlawanan, kita berusaha tetap bersikap ramah, baik dari kata-kata yang kita ucapkan, bahasa tubuh, termasuk nada bicara.

“Kita berupaya membuat satu kesepahaman dan terus mengawasi penuturan agar lawan bicara kita mudah menyepakati yang kita ucapkan,” kata Stokoe.

Kita juga cenderung mencegah friksi di lingkungan pekerjaan. Siapa yang ingin berselisih paham dengan orang yang duduk di sebelahnya, delapan jam dalam sehari?

Jika rekan kerja anda adalah atasan Anda, bahkan ada dorongan untuk tidak berbeda pendapat.

Namun ini merupakan pola pikir yang sangat keliru, menurut Amy E. Gallo, penulis Guide To Dealing With Conflict At Work, yang diterbitkan dalam paket Ulasan Bisnis Universitas Harvard.

“Setiap orang merasa mereka harus bekerja dalam kedamaian yang sebenarnya sulit terwujud, di mana hubungan setiap orang berlangsung harmonis.”

“Namun jika kita tidak menunjukkan ketidaksetujuan, kita tidak akan produktif. Ini mustahil,” kata Gallo.

Memiliki beragam ide berarti orang-orang akan saling berbeda pendapat.

“Saya melihat banyak organisasi membicarakan kurangnya perspektif yang beragam, sebuah lingkungan kerja yang tertutup.”

“Dan ketika mereka mengerdilkan perbedaan pendapat, mereka umumnya akan berkata, ‘kami tidak ingin mendengar argumentasi lain.’ Ini adalah kunci mengembangkan keragaman wacana dan menghadirkan keberhasilan,” ujar Gallo.

Dalam ilmu pengetahuan, misalnya, teori baru tidak hanya diuji dalam sebuah eksperimen, tapi juga dipertentangkan oleh peneliti-peneliti lain.

Profesor Stuart Firestein dari Universitas Colombia menilai beragam keraguan itu vital, bahkan saat teori itu hampir mencapai satu kesimpulan.

“Kerap kali di laboratorium, kami memasukkan naskah untuk dipublikasikan dan ternyata pengulas menemukan sejumlah kecatatan dalam teori itu.”

“Saya sangat bersyukur atas proses itu karena jika tidak, saya akan langsung menerbitkannya dan memunculkan kekeliruan besar di masyarakat.”

“Tapi akhirnya hanya saya dan si pengulas yang tahu jika saya seorang yang bodoh,” ujar Firestein.

Anda dapat menyebut ilmu pengetahuan adalah sistem yang mengekang sebuah proses uji coba dan wacana.

“Ilmu pengetahuan adalah struktur yang diciptakan untuk melegalisasi perbedaan pendapat,” ujar Firestein.

“Saya ingat suatu kali hadir dalam pertemuan di mana pesertanya saling meneriaki satu sama lain, namun kemudian mereka pergi ke bar dan minum bersama.”

“Begitulah seharusnya yang terjadi. Ada hubungan yang saling menghargai betapapun Anda saling berbeda pendapat,” tuturnya.
Mungkin Anda merasa tidak cukup terbiasa pada budaya pertentangan ini. Betapa dalam pun komitmen Anda untuk berbagai tujuan, baik itu inovasi, pemecahan masalah atau pendekatan ilmiah terhadap kejujuran, tak satupun orang senang berada dalam posisi keliru.

Biarkan saya meyakinkan Anda bahwa perbedaan pendapat memang tak menyenangkan, tapi menghadirkan banyak keuntungan.

Pertama, pertentangan menghadapkan wacana Anda dengan pemikiran yang lain. Itu merupakan situasi yang positif, kata Claire Fox dari Akademi Ide.

“Kebiasaan itu akan meningkatkan kemampuan Anda berargumentasi karena Anda dipaksa berpendapat dan bertarung dengan pendapat terbaik dari lawan bicara Anda.”

“Jadi Anda akan mengeluarkan pemikiran terbaik. Atau sebaliknya, Anda tidak tahu jika Anda mungkin akan mengubah keyakinan Anda,” kata Fox.

Kedua, perbedaan pendapat dapat mengekang kebiasaan mementingkan diri sendiri. Budaya ini mendorong Anda tidak memungkiri pendapat lain.

Prasangka, keyakinan yang tak dapat dibantah dan sikap keras kepala menempa ide-ide yang lebih baik, menurut penulis, Jonathan Rauch.

“Anda tak ingin orang lain masuk ke pembicaraan tanpa merasa yakin atas suatu perkara. Yang Anda mau, mereka mengutarakan pandangan yang dapat diuji secara bersama-sama.”

“Lalu Anda mengekang energi mereka atas suatu kepastian, bias, dan ketidaksetujuan,” kata Rauch.

Ketiga, permainan kata-kata atas suatu wacana yang tampak rapuh mungkin akhirnya bisa menjadi sebuah keuntungan. Carilah penafsiran baru yang dapat menggugat wacana yang telah ada.

“Jika Anda hanya berbicara dengan orang-orang yang sepaham dengan Anda, maka anda hanya mengakumulasi keyakinan yang sama,” kata peneliti kognitif, Hugo Mercier.

“Dan barangkali, keadaan itu membuat Anda terlau percaya diri dan terpolarisasi.”

Bersama profesor Dan Sperber, Mercier menulis buku The Enigma of Reason (Teka-teki Akal Budi). Mereka berpendapat, kelemahan pemikiran manusia menjadi kekuatan ketika mereka saling beradu argumentasi.

Manusia sangat baik dalam menilai pendapat orang lain, dibandingkan pemikirannya sendiri.

“Jika Anda berdiskusi secara terbuka dengan orang yang berseberangan pandangan politik, mereka akan menyerang argumentasi Anda yang lemah.”

“Mereka akan memaparkan pendapat dari sudut pandang mereka dan akhirnya pembicaraan itu berakhir positif.”

Argumentasi, menurut Mercier dan Sperber, adalah basis logika manusia.

Jika kita seorang diri, kita malas berpikir dan mengumpulkan pendapat untuk memperkuat asumsi-asumsi kita.

Pemikiran anda hanya dapat diuji dengan menempatkan diri anda pada keraguan orang lain, menemukan kelemahan dalam pendapat mereka, dan membiarkan mereka mencari kelemahan ide Anda.

Itulah alasan saya menilai Anda berutang pada diri Anda, orang-orang yang bekerja dengan Anda, dan komunitas secara umum, untuk menemukan argumentasi yang hebat.

Dan hebat artinya akurat serta tak diragukan orang lain.

Seperti yang diutarakan Gallo, “Berbeda pendapat bukan berarti tak ramah. Sikap itu tak selalu diartikan ketidaksopanan. Anda dapat melakukannya dengan empati, simpati, dan ramah. (BBC)