Tuesday, 18 September 2018

Bengkel Reparasi Airsoft-gun Digerebek, Dua Tersangka Diamankan

Rabu, 12 September 2018 — 20:44 WIB
Kapolres Jakarta Timur Kombes Tony Surya Putra menunjukkan barang bukti senjata airsoft gun. (Ifand)

Kapolres Jakarta Timur Kombes Tony Surya Putra menunjukkan barang bukti senjata airsoft gun. (Ifand)

JAKARTA– Anggota Polres Jakarta Timur, mengungkap bengkel reparasi airsoft gun yang beroperasi di wilayahnya. Bengkel tersebut diketahui sebagai tempat merubah senjata api yang selama ini digunakan pelaku kejahatan.

Tersangka Cecep dan Sugeng diamanakan. Keduanya diketahui sebagai mekanik yang selama ini mengubah senjata agar daya letusnya lebih besar dibandingkan biasanya. Dari bengkel itu, petugas mengamankan 32 pucuk airsoft gun dan berbagai mesin serta peralatan lainnya.

Kapolres Jakarta Timur Kombes Tony Surya Putra mengatakan, pengungkapan ini berawal dari pengembangan kasus tersangka narkoba. Dimana DPO kasus narkoba itu digerebek di rumah di Pasar Rebo, Jakarta Timur. “Saat itu petugas menemukan puluhan airsoft gun,” katanya, Rabu (12/9/2018).

Dikatakan Tony, dari rumah itu, petugas menyita tiga pucuk airsoft gun laras panjang, 28 senpi berbagai bentuk, dan 32 amunisi air softgun serta dua alat servis air softgun. “Ini senpi jenis air softgun jika digunakan dalam jarak dekat akibatnya sangat fatal. Dan barang bukti ini tidak dilengkapi adanya surat kepemilikan,” ucapnya.

senjata sofgun2

Dari pengakuan pelaku, kata Tony, bahwa airsoft gun tersebut adalah milik pelangganya karena selama ini ia membuka jasa servis senjata.

Bahkan bisnis tersebut sudah lama berjalan dan setiap unit senjata yang direparasi perlu bayar Rp100 ribu. “Kemungkinan besar pelanggannya adalah pelaku kejahatan, makanya kami masih selidiki lebih dalam,” ungkapnya.

Pihaknya, sambung Tony, hingga saat ini juga masih melakukan pendalaman terhadap kepemilikan senjata api jenis airsoft gun ini. Pendalaman untuk memastikan kedua pelaku hanya sebagai jasa servis saja, atau juga bersekongkol dengan pelaku kejahatan. “Karena tak tertutup kemungkinan, pelaku curas, curat dan curanmor, atau juga terlibat sindikat peredaran narkoba,” pungkasnya. (Ifand/M1/b)