Monday, 24 September 2018

Pemilu Serentak 2019 Partai Golkar Terancam

Rabu, 12 September 2018 — 16:16 WIB
Peneliti Senior LSI Denny JA, Adjie Alfaraby saat memaparkan hasil survei. (rizal)

Peneliti Senior LSI Denny JA, Adjie Alfaraby saat memaparkan hasil survei. (rizal)

JAKARTA – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil surveinya, menyebut untuk pertama kalinya Partai Golkar terancam tidak menjadi parpol papan atas dalam Pemilu Serentak 2019 mendatang.

“Ini untuk pertama kalinya, Partai Golkar terancam tidak berada di posisi atas. Menurunnya perolehan suara Partai Golkar akibat mantan Ketua Umum Golkar Setya Novanto dan mantan Sekjen Partai Golkar menjadi tersangka oleh KPK,” kata peneliti senior LSI Denny JA, Adjie Alfarabya di Graha Dua Rajawali, Pemuda No. 70 Rawamangun Jakarta Timur, Rabu (12/9/2018).

Adjie mengatakan, untuk pertama kalinya pula PDIP berpotensi menjadi partai pada era reformasi yang menjadi juara pemilu, dua kali berturut-turut.

“PDIP berpotensi keluar dari ‘kutukan juara bertahan’ partai-partai pemenang pemilu di era reformasi. Ibarat dalam sepakbola liga Champion modern, PDIP berpeluang menjadi Real Madrid, menjadi juara Liga Champion berturut-turut. Pada pemilu 1999, PDIP menjadi pemenang pemilu dengan perolehan suara sebesar 33.7 %,” ucap Adjie.

Adjie memaparkan, pada pemilu selanjutnya di tahun 2004, PDIP kalah dan Partai Golkar menjadi juara. Pada pemilu 2009, pemenang pemilu berganti, untuk pertama kalinya partai baru (baru ikut pemilu 2004), yaitu Partai Demokrat memenangkan pemilu. Dan pada pemilu 2014, PDIP kembali menjadi juara.

Adjie mengatakan, figur Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah tidak mampu lagi mengangkat perolehan suara lebih dari 5.2%.

“Untuk bisa keluar dari angka 5.2% Partai Demokrat dibutukan figur yang lebih fresh yakni sosok seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY),” katanya.

Saat ini (Survei Agustus 2018), survei LSI Denny JA menunjukan bahwa elektabilitas PDIP sebesar 24.8 %, disusul Partai Gerindra sebesar 13.1%, Partai Golkar 11.3%, PKB sebesar 6.7% dan Partai Demokrat sebesar 5.2%.

Sementara partai yang tak lolos ke Senayan berdasarkan survei yakni PKS sebesar 3.9 %, PPP sebesar 3.2 %, Nasdem sebesar 2.2%, Perindo sebesar 1.7 %, PAN sebesar 1.4 %, dan partai lainnya semuanya dibawah 1 %.

Sementara mereka yang belum memutuskan yaitu sebesar 25.2 %.

“Gerindra potensial menjadi partai pertama yang menjadi runner-up (pemenang kedua), di luar PDIP dan Golkar. Dalam 4 (empat) kali pemilu era reformasi, posisi runner-up tak pernah diperoleh oleh partai di luar PDIP dan Golkar. Bahkan dari 4 kali pemilu, Golkar berhasil merebut juara kedua tiga kali yaitu di pemilu 1999, pemilu 2009, dan pemilu 2014,” katanya.

Sementara PDIP berhasil menjadi runner up pada pemilu 2004. Kini elektabilitas Gerindra sebesar 13.1%, diatas elektabilitas Partai Golkar. Dan elektabilitasnya masih di bawah PDIP.

Meski begitu, Adjie Alfaraby mengatakan, kepastian parpol mana yang tak lolos ke Senayan itu dapat diketahui 2 minggu jelang Pemilu Serentak.

“Karena masih ada waktu 8 bulan lagi bagi parpol untuak bekerja. Kepastian siapa yang tak lolos ke Senayan dapat diketahui dua bulan sebelum Pemilu Serentak 2019,” tegasnya. (rizal/b)