Monday, 24 September 2018

Ciliwung Kotor Biarkan Saja Yang Penting Warga Bahagia

Kamis, 13 September 2018 — 7:08 WIB
anies-ciliwung

SAAT berkunjung ke Korsel, Presiden Jokowi terpesona oleh jernih dan bersihnya kali di Seoul. Mantan Gubernur DKI itu menginginkan kali Ciliwung di Jakarta juga seperti itu. Kira-kira apa bisa, karena setiap ganti penguasa ganti kebijakan. Lihat Ciliwung sekarang; meski kotor biarkan saja, karena yang penting bahagia warganya.

Kali yang kotor, tanggul yang menyempit dan dikuasai bangunan kumuh dan liar milik penduduk, adalah gambaran khas kali Ciliwung yang membelah kota Jakarta. Agak tertib hanyalah bila berhimpitan dengan jalan raya. Tapi jika di balik perkampungan dan gedung-gedung, ya begitulah kali Ciliwung yang sesungguhnya.

Jaman pemerintahan Jokowi-Ahok dicoba untuk ditertibkan dengan normalisasi. Sebagian berhasil dilaksanakan misalnya sekitar Bukit Duri. Normalisasi belum tuntas, karena Jokowi jadi presiden dan Ahok sebagai penerusnya kalah Pilgub.

Normalisasi tak berlanjut, karena Gubernur Anies Baswedan lebih cenderung ke naturalisasi. Bagi gubernur pendahulu, normalisasi adalah melebarkan dan merapikan bentuk kali dan selanjutnya tanggul dibeton. Sedangkan naturalisasi versi Anies adalah membiarkan bentuk kali sebagaimana aslinya. Dilebarkan iya, tapi tanpa beton melainkan tanggul diperkuat dengan pepohonan.

Menurut pengamat tatakota dari Trisakti, Nirwana Yoga, konsep Ahok dan gubernur para pendahulunya, itu salah. Karena justru mempercepat gerakan air. Yang benar adalah konsep Anies Baswedan. Ini paralel juga dengan pendapat sejarawan JJ Rizal, karena dengan naturalisasi air bisa terserap ke tanah, bukan terbuang ke laut.

Tapi merapikan kali Ciliwung baik secara normalisasi maupun naturalisasi sama susahnya. Normalisasi juga harus membongkar bangunan-bangunan liar demi perluasan lebar kali. Begitu juga naturalisasi, karena itu berarti juga harus membongkar beton-beton yang sudah dibangun Ahok. Bukankah itu sebuah pemborosan?

Paling berat adalah, untuk konsisten dengan slogan keberpihakan Gubernur Anies. Andaikan Gubernurnya masih Ahok, ketika gugatan warga Bukitduri dimenangkan pengadilan dan DKI harus bayar Rp 18 miliar, pasti akan banding dan kasasi. Tapi Anies menerima saja. Karenanya biarkan saja kali Ciliwung tetap kotor, yang penting bahagia warganya. – gunarso ts