Monday, 19 November 2018

Peralatan Keselamatan Kapal di Batam Diperiksa Mendadak

Jumat, 14 September 2018 — 5:01 WIB
Tim BTKP Ditjen Hubla memeriksa peralatan keselamatan pelayaran secara acak di kapal-kapal penyeberangan di Batam. (dwi

Tim BTKP Ditjen Hubla memeriksa peralatan keselamatan pelayaran secara acak di kapal-kapal penyeberangan di Batam. (dwi

JAKARTA – Guna meningkatan keselamatan penumpang, Balai Teknologi Keselamatan Pelayaran (BTKP) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan melakukan uji petik peralatan di atas kapal penyeberangan di Pelabuhan Batam, Kamis (13/9/2018).

Pemeriksaan ini dilakukan juga bersama-sama dengan Kantor Pelabuhan Batam dan Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Pinang.

Kepala BTKP Binari Sinurat yang memimpin pemeriksaan mengatakan peralatan yang diuji petik oleh tim seperti alat-alat keselamatan pelayaran, meliputi alat keselamatan navigasi diatas kapal seperti Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB), Search And Rescue Radar Transponder (SART).

Selain itu Global Maritime Distress Safety System (GMDSS), peralatan pemadam kebakaran dan CO2 System, pengujian Inflatable Life Raft (ILR) dan terakhir ditutup dengan pengujian lifejacket.

Uji petik dilakukan secara acak pada kapal penumpang yang sedang bersandar di Pelabuhan Ferry Harbour Bay yaitu kapal Ferry Oceanna 15 dan di Pelabuhan Sekupang yaitu kapal Batam Jet 3.

Petugas memeriksa EPIRB, SART dan GMDDSS di atas kapal Ferry Oceanna 15 dengan hasil uji terhadap ketiga alat keselamatan tersebut berfungsi secara baik.

Sedangkan pada kapal Batam Jet 3 dilakukan uji petik terhadap peralatan pemadam kebakaran, CO2 Sistem, Inflatable Life Raft (ILR) dan lifejacket dan semua berfungsi dengan baik.

Dikatakan Binari Sinurat pemeriksaan terhadap peralatan keselamatan penumpang di kapal merupakan amanah Undang-Undang No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan juga untuk memastikan peralatan yang ada di atas kapal berfungsi secara baik, terpasang dengan baik dan layak pakai.

“Pengujian kali ini bertujuan untuk melihat, menguji dan memastikan secara bersama-sama terhadap alat keselamatan pelayaran yang telah dikerjakan oleh service station,” kata Binari.

Menurutnya, pembinaan, perbaikan dan pemeliharaan alat keselamatan pelayaran harus dilakukan secara terintegrasi dan berkesinambungan, dan juga secara sistematis, terukur dan tersandarisasi. (dwi/b)