Wednesday, 24 October 2018

Rumah Produksi Miras Palsu dengan Merk Terkenal Digerebek Polisi

Jumat, 14 September 2018 — 20:28 WIB
Pelaku saat mempraktekan produksi miras palsu. (Ifand)

Pelaku saat mempraktekan produksi miras palsu. (Ifand)

JAKARTA – Pabrik minuman keras (miras) palsu beromset Rp75 juta perbulan digerebek petugas Reskrim Polres Jakarta Timur. Seorang pelaku yang memproduksi, meracik hingga menyuplai ke toko-toko minuman ditangkap.

Tersangka EH, 41, ditangkap polisi atas bisnis haram yang dilakukannya selama ini. Pelaku meracik dan menjual miras palsu merek Vodka dan Whisky di rumahnya di Jalan Komarudin Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur.

Kapolres Jakarta Timur Kombes Tony Surya Putra mengatakan, pengungkapan tersebut berawal dari penyelidikan yang dilakukan anggotanya. Hampir sepekan pengintaian digelar hingga akhirnya Kamis (13/9) kemarin ditangkap.

“Dari dalam rumah pelaku kami mengamankan ratusan botol miras palsu merek terkenal seperti vodka, whisky, brandy,” katanya, Jumat (14/9).

Dikatakan Kapolres, selama ini pelaku meracik minuman keras palsu yang notabenya merek terkenal. Dimana bahan-bahan yang digunakan seperti alkohol 96 persen, air serta pewarna karemel. “Tentunya hal itu sangat membahayakan bagi masyarakat yang meminumnya, ini juga termasuk miras oplosan,” ungkapnya.

Dalam setiap memproduksi, kata Kapolres, setiap harinya pelaku yang diketahui bekerja sendiri ini, dapat meracik miras 50 botol. Untuk setiap botolnya ia jual seharga Rp50 ribu dan bila dikalkulasi sebulan penjualannya beromset Rp75 juta. “Sasaran tempat penjualanya yakni di tempat-tempat yang memang menjual miras tanpa izin. Dan ia menjualnya dengan harga sangat miring,” ujarnya.

Dari pengakuan tersangka, sambung Kombes Tony, pelaku bahwa dirinya telah menjalankan bisnis haram ini sudah sejak tiga bulan lalu. Namun pihak kepolisian tidak percaya dengan hal tersebut, sehingga pihaknya akan melakukan pengembangan terkait pengungkapan ini.

“Kasus ini masih kita akan kembang lagi, kami masih mencari siapa penyedia botol hingga tutupnya,” terang Tony.

Atas perbuatannya, pelaku melanggar pasal 204 kuhp dan 386 kuhp dan 142 kuhp JO 91 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan dengan ancaman hukuman 15-20 tahun penjara. “Ancaman hukumannya paling berat 15 tahun penjara,” tukasnya. (Ifand/M1/b)