Saturday, 22 September 2018

Berharap Debat Capres jadi Tuntunan, Bukan Tontonan

Sabtu, 15 September 2018 — 4:50 WIB

JADWAL debat capres – cawapres belum juga ditentukan, tapi usulan format sudah mulai digulirkan. Bahkan, muncul usulan agar debat menggunakan bahasa Inggris seperti diwacanakan kubu Prabowo- Sandi.

Tak pelak usulan itu mendapat tanggapan dari kubu Jokowi – Ma’ruf Amin yang balik mengusulkan debat pakai bahasa Arab dan lomba mengaji.

Meski ibarat berbalas pantun, tapi tema usulan yang diajukan kedua kubu, sudah sarat dengan makna.

Masyarakat tentu dengan mudah dapat menilai makna di balik usulan tersebut. Dan, itulah manuver politik jelang Pilpres.

Bagi kita, rakyat Indonesia tentu bukan soal bahasa yang menjadi persoalan utama. Tapi bagaimana menyampaikan materi dengan bahasa yang sederhana, mudah dicerna, mudah dimengerti, gampang dipahami.

Materi yang disajikan langsung mengena kepada persoalan riil yang dihadapi masyarakat. Secara riil pula mengajukan program untuk memecahkan persoalan. Tergambar secara jelas, tegas dan lugas upaya konkret menyejahterakan rakyat.

Berani menggaransi jika program tidak dapat dijalankan akan dipertanggungjawabkan kepada rakyat.Terutama kepadaTuhan Yang Maha Kuasa. Bentuk pertanggungjawaban misalnya bersedia mengembalikan mandat kepada rakyat yang memilihnya.

Karena itu, format debat mestinya diatur dengan memberi ruang yang cukup interaktif bagi capres – cawapres untuk menyampaikan program kepada rakyat. Bukan sebaliknya memberi peluang bagi masing- masing pasangan untuk saling menyerang kelemahan lawan, apalagi dengan mengungkap aib.

Jika itu yang terjadi akan menjadi debat kusir.

Rakyat terhibur karena arena debat berubah menjadi tontotan, bukan tuntunan bagi upaya perbaikan bangsa dan negara.

Memang, debat itu uji kemampuan dan uji kualitas. Tetapi hendaknya bukan kemampuan berdebat yang ditonjolkan, melainkan kemampuannya membangun bangsa dan negara.

Kalau saling debat yang ditonjolkan dikhawatirkan dapat memperlebar kesenjangan antara dua kubu yang pada gilirannya akan menjadi embrio terjadinya gesekan di akar rumput.

Menjadi bahan renungan, apakah nama debat perlu diganti misalnya menjadi adu gagasan, adu program, atau sharing ide membangun bangsa.

Sejatinya nama bukanlah pangkal masalahnya, tetapi persoalan lebih terletak kepada bagaimana mengemasnya. Bagaimana masing- masing pihak yang terlibat di dalamnya mampu menempatkan diri, tidak terbawa emosi, dan masing-masing kubu mampu mengendalikan diri.*