Monday, 15 October 2018

Menikmati Kopi Tuli Ditingkahi Suara Vespa yang Diservis

Jumat, 21 September 2018 — 1:27 WIB
Adhika dan  Erwin, pemilik kafe Kopi Tuli (tuna rungu), tengah melayani pengunjung di Jalan Raya Krukut 70, sebelah  Kelurahan Krukut, Limo, Kota Depok. (rinaldi)

Adhika dan Erwin, pemilik kafe Kopi Tuli (tuna rungu), tengah melayani pengunjung di Jalan Raya Krukut 70, sebelah Kelurahan Krukut, Limo, Kota Depok. (rinaldi)

RAUNGAN suara motor Vespa jenis Scooter tidak mengganggu tetamu kafe Koptul Waroeng Scooter di Jalan Raya Krukut 70, Cinere, Kota Depok. Beberapa meja yang diisi beragam remaja sebaya tetap asyik bercengkerama dengan bahasa isyarat, sesekali terdengar tawa, ditingkahi suara motor yang tengah direparasi montir.

“Betul, Koptul itu singkatan dari Kopi Tuli,” ujar Adhika Prakoso, 28, penyandang tuna rungu (baca: tuli), didampingi Ichsan Kamil, sobatnya sesama lulusan SD Luar Biasa Santi Rama, sambil melayani pesanan pengunjung kafe-nya berlokasi di sebelah Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, baru-baru ini.

Bagi Sarjana S1 Fakultas Disain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara Jakarta ini, suasana memang tak terelakkan sejak awal difasilitasi adik orangtuanya sebuah tempat untuk membuka kafe tanpa menghilangkan bengkel Scooter. Alhasil, tetamu kafe diberi pemandangan jejeran Vespa lawas mulai buatan 1940-an siap pakai.

“Alhamdulillah, terus ramai sejak dibuka 12 Mei 2018,” sambung Tri Erwinsyah, 28, penyandang tuna rungu sesama pendiri kafe Koptul itu.

Bersama Puteri dan Adhika, ia langsung berinisiatif membuka usaha, setelah merasa diejek karena keterbatasannya, saat melamar di pekerjaan perusahaan.

Bahkan, ia mengaku sudah ratusan perusahaan yang didatangi dengan bekal gelar kesarjanaan yang dikantongi.

Termasuk Erwin yang lulusan Fakultas Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta, itu. “Kami tidak putus asa, ditolak menjadi karyawan. Tetapi justru memacu semangat mandiri karena tidak mau menganggur sekaligus membuktikan kepada masyarakat bahwa keterbatasan bukan penghalang berkarya,” ujar kembaran Erwan, yang bukan tuna rungu, itu.

KOPI KHAS

“Memang beda rasanya kopi khas Koptul, disamping harga terjangkau kalangan muda,” komentar Raissa Nur Latifah, pelanggan bukan tuna rungu bersama komunitasnya Seniman se-Depok, di antara tetamu tuna rungu. “Favoritku, Kosu Siput yaitu kopi dicampur alpukat.”

Kosu Siput, singkatan dari Kopi Susu Alpukat, itu memang khas Koptul karena racikan si-Puteri. Dua lainnya yaitu Kosu Koso atau kopi susu terasa pahitnya merupakan racikan Adhika Prakoso. Sedangkan Tri Erwinsyah meracik kopi susu dengan rasa pahit lembut dinamai Kosu Wings.

Kekhasaan racikan itu, cerita Adhika, diawali ide bertiga untuk membuat kafe, sehingga bersama belajar kepada ahlinya. Seperti soal tanaman kopi di daerah Bandung, soal rasa di wilayah Bumi Serpong Damai di Tangerang Selatan, dan soal barista atau racikan kopi di Toffin, Pluit, Jakarta Utara.

“Kami bereksperimen dengan alat Rok Esspresso dan mesin Toffin lalu berpatungan modal Rp 200 juta awal buka kafe,” jelas putra tunggal pasangan Kiki Syamsudin-Nugroho itu. (rinaldi/bi)