Monday, 10 December 2018

Hindari Politisasi Gosip Meraih Kekuasaan

Sabtu, 22 September 2018 — 5:19 WIB

TAHAPAN pemilihan legislatif ( Pileg) dan pemilihan presiden ( Pilpres) berjalan sebagaimana telah terjadwalkan. Setelah penetapan Capres dan Cawapres, Jumat (20/9/2018) malam dilakukan pengundian nomor urut di Kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat.
Pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin mendapat nomor urut 1, sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat nomor urut 2.

Berapa pun nomor yang didapat tidak akan menjadikan sebuah masalah seperti telah diungkapkan oleh masing – masing paslon.

Kita pun mesti meyakini semua nomor adalah baik, tidak ada nomor keberuntungan. Tidak pula ada nomor yang bakal mencelakan atau merugikan. Dalam konteks pilpres tentu akan kembali kepada bagaimana menempatkan dan menggunakan nomor tersebut sebagai alat peraga kampanye.
Kalaupun ada pengaruh, terletak pada posisi kartu suara. Sebagaimana lazimnya dalam kertas suara penempatan gambar dan nama pasangan calon nomor urut 1 akan ditempatkan di sebelah kiri, sementara nomor urut 2 di sebelah kanan.

Tentu kita tidak boleh berasumsi bahwa penempatan nomor urut akan sebanding lurus ( linier) dengan perolehan suara. Hasil perolehan suara tidak terpengaruh oleh nomor urut pasangan calon (paslon).

Perolehan suara akan lebih tergantung kepada bagaimana figur paslon, program kerja, visi dan misi yang disampaikan kepada publik ( calon pemilih). Hasil pilpres juga akan ditentukan dari kinerja tim sukses masing – masing paslon dan mesin politik parpol pendukung.

Pengalaman dalam pilkada serentak, mesin parpol yang bekerja maksimal ikut mendongkrak perolehan suara, meski tidak secara mutlak. Parpol berperan meyakinkan kepada calon pemilih bahwa program kerja dari paslon yang diusungnya adalah yang terbaik untuk rakyat.

Jika mencermati, setidaknya ada 3 karakteristik calon pemilih di Indonesia yaitu pemilih rasional yang mendasarkan kepada program kerja, visi dan misi serta kinerjka paslon. Pemilih sosiologis lebih kepada faktor sosiologis seperti ras, suku, dan agama paslon. Pemilih psikologis memilih berdasarkan performance paslon seperti menarik, ganteng, cantik dan faktor psikologis lainnya.

Hendaknya tim sukses dan kader, atau relawan lebih menekankan kepada strategi politik cerdas, santun, beretika dan bermoral dalam memenangkan paslonnya. Hindari cara – cara culas dan kotor, misalnya dengan mengembangkan “politisasi gosip” . Ini praktik politik tidak terpuji yang pada akhirnya akan mencoreng diri sendiri.

Di era sekarang, politisasi gosip hanya akan dinikmati keriuhannya di udara (dunia maya), tetapi akan jauh dari target perolehannya. Boleh jadi publik akan memalingkan pilihannya. Di era digital ini, publik lebih cerdas, tidak mudah terbawa arus atas riuhnya politisasi gosip. (*).