Monday, 15 October 2018

Politik Mampir ke Warung Kopi

Sabtu, 22 September 2018 — 7:05 WIB
dular

Oleh S Saiful Rahim

“RASANYA aku mencium bau bangkai, nih” kata orang yang baru masuk ke warung kopi Mas Wargo tanpa mengucapkan assalamu alaykum. Sebaliknya dia menutup hidungnya dengan jempol dan telunjuk.

“Ah, barangkali hidung Bung sendiri yang bau. Aku yang sudah di sini sebelum warung dibuka tidak mencium bau apapun. Kecuali bau sedapnya berbagai makanan yang digoreng Mas Wargo,” tanggap orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Mustahillah dia bau. Pasti siang malam dia mandi terus. Kan baru Minggu lalu dia menikah. Pasti sedang rajin-rajinnya mencangkul. Hahaha,” serobot seseorang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana, membela orang yang baru masuk itu. Dan serta merta suara tawa pun tambah membahana.

“Pantas pemilik warung di sebelah rumahku terheran-heran. Tidak seperti biasa, beberapa hari ini shampoo di warungnya cepat habis,” sambung orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung yang serta merta membuat tawa hadirin kian riuh.

“Maksudku, aku mencium bau komunisme yang sudah menjadi bangkai. Ketika sebelum masuk ke warung ini, kudengar ada di antara kalian yang berkata bahwa naiknya nilai dolar adalah permainan kaum borjuis Amerika. Mereka tahu benar Indonesia, negeri yang sebenarnya kaya raya alamnya dengan berbagai tanaman ini, masih belum bisa mencukupi kebutuhan bahan pangan pokoknya. Hanya sekadar kedelai saja masih mengimpor. Tidak aneh bila kurs dolar naik kita kelabakan. Warung kopi seperti milik Mas Wargo ini bisa tiba-tiba ambruk kalau tidak menjual tempe atau tahu goreng,” kata orang yang masuk ke warung Mas Wargo dengan menutup hidung itu lagi.

“Waduh, Bapak ini “setali tiga uang” alias sama dengan orang-orang yang Bapak cela. Persis dengan orang-orang yang mengaku dan sekaligus merasa politisi dan pemimpin yang ramai hura-hura saling caci di luar sana.

Mereka yang ribut dan sibuk di luar sana itu merasa yakin akan mendapat simpati orang banyak atau rakyat, dengan memaki atau menelanjangi siapa saja yang dianggap lawan politiknya. Padahal rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang satu sama lain saling menelanjangi. Mereka ingin mendengar dan memilih bagaimana “para beliau” itu menunjukkan cara mereka ingin menyejahterakan rakyat,” kata Dul Karung seraya meninggalkan warung. Orang-orang pun terheran-heran mendengar omongan Si Dul yang kali ini lumayan isinya. (Syahsr@gmil.com )