Tuesday, 18 December 2018

Diidolakan Semenjak Saat SMA Ternyata Biang Kerok Juga

Minggu, 23 September 2018 — 4:59 WIB
putus cinta putus nyawa

RINI, 25, menyesal menikah dengan Hendro, 28. Di matanya, sejak SMA lelaki ini sangat mengagumkan. Maka tak peduli cewek, Rini mengejar-ngejar eks kakak kelasnya dulu itu. Tujuh tahun kemudian baru tercapai. Tapi ternyata Hendro sekarang hanyalah biang kerok. Sebagai istrinya Rini sering ditelantarkan.

Bagi orang timur, termasuk yang tinggal di Jawa Timur, gadis mengejar-ngejar cowok itu sangat memalukan. Seharusnya; cowoklah yang mengejar-ngejar cewek. Tapi di jaman now sekarang, gadis milenial sudah tak malu lagi memburu cowok yang diidamkan. Disebut sebagai cewek gatelan, tidak peduli. “Kan ada Kalpanax,” malah begitu jawabnya.

Rini yang tinggal di Manukan Surabaya, sejak SMA sudah demen mengejar-ngejar “manuk” kepala hitam. Kakak kelasnya yang bernama Hendro banyak dibuat rebutan cewek. Tak hanya ganteng, anak muda ini juga berpretasi di sekolah. Nilai raportnya selalu di atas rata-rata, jadi ketua kelas pula. “Aku harus mendapatkannya,” kata Rini.

Biar cewek, mulailah Rini nembak Hendro. Tapi karena dirinya hanya gadis rata-rata tanpa prestasi, cintanya tak terhiraukan. Surat cintanya saja tak pernah dibalas. Setiap ketemu biasa-biasa saja. Jangan-jangan surat itu tak nyampai. Mana mungkin, wong diperkuat juga lewat tembakan SMS.

Handro tamat dan kuliah, putus sudah hubungan itu. Rini sendiri sibuk membangun karier. Ketika dirinya sudah jadi guru SMA, eh ketemu lagi dengan Hendro yang ternyata juga masih jomblo. Ingar obsesinya masa lalu, kembali Rini nembak Hendro. Kali ini rupanya nyangkut, dan keduanya terlibat pacaran.

Hendro yang dulu kalem, ternyata kini sudah jadi lelaki agresip. Belum juga diresmikan di KUA Hendro sudah berani “ngebon” dulu sampai kemudian Rini hamil. Dia pun mendesak menikah. Ternyata lelaki idolanya itu juga bersedia. Alhamdulillah anak lahir sudah punya ayah resmi dan asli.

Tapi makin ke sini semakin kelihatan siapa aslinya Hendro ini. Ternyata pekerjaannya tidak jelas, bahkan tukang mabok. Tiap malam ngelayap, pulang-pulang lehernya penuh cupang. Rini mengingatkan, untuk menjadi kepala rumahtangga yang baik. Tapi jawabnya, “Aku mau sama kamu kan sekedar pelarian, karena kekasihku diambil orang.”

Menyesal selalu datang belakangan. Mengingat hidupnya semakin hampa dengan Hendro, Rini pun menggugat cerai lewat Pengadilan Agama Surabaya. Soal nafkah tak pernah dicemaskan, karena dia punya penghasilan sendiri sebagai guru. Cuma dia harus segera cari suami pengganti.

Lewat jalur independen, apa parpol Mbak? (JPNN/Gunarso TS)