Tuesday, 16 October 2018

Mata Nginceng Anak Tiri Sang Ibu Memilih Bercerai

Senin, 24 September 2018 — 6:45 WIB
gajelas

PUNYA anak perempuan tiri usia 17 tahun, menjadikan Muryadi, 45, matanya melotot terus, nginceng si Watik. Ny. Ninuk, 40, awalnye mencoba menepis bayangan buruk itu. Tapi sekali waktu memergoki putrinya ditindih Muryadi dalam kamar. Langsung saja Ninuk mengajukan gugatan cerai.

Fungsi utama mata adalah untuk melihat. Melihat apa saja, melihat yang indah, yang buruk sampai yang porno di internet. Tapi di jaman now kini, mata juga digunakana pejabat untuk memaki, sehingga Dirut Bulog Budi Waseso bisa memaki Mendaf Enggartiasto Lukito sebagai, “Matamu itu.”

Melihat dengan penuh nafsu terhadap anak tiri, dialami oleh Muryadi, warga Ngagel Surabaya. Makin lama kok makin sedep dan resep, sehingga Muryadi pengin nyikep! Padahal awalnya biasa saja. Tapi sejak Ninuk dan anak bawaannya, Watik diboyong ke rumahnya, setan sebagai anggota TKS (Tim Kampanye Setan) berhasil menjerumuskan Muryadi sebagai anggota baru.

Muryadi yang duda, setahun lalu menikahi janda Ninuk yang sama-sama berdagang di pasar. Dari perkenalan antara pedagang itu terbitlah rasa cinta mereka. Tanpa menyelidik calon suami eks napi koruptor atau bukan langsung saja cinta Muryadi diterima. Pernikahan digelar dan Ninuk bersama Watik kemudian diboyong Muryadi ke istananya di Ngagel.

Karena tinggal serumah, dengan sendirinya Muryadi sering ketemu anak tirinya tersebut. Disawang-sawang kok makin endah saja. Ibunya yang sudah emak-emak masih enak, anak tirinya yang jauh lebih muda pasti makin enak, kriuk-kriuk seperti timun buat lalapan.

Makin lama keduanya makin akrab. Awalnya Ninuk menganggap itu hal biasa, kasih sayang ayah tiri yang sudah menyatu pada anaknya. Tapi belakangan sorot mata suami pada Watik kok makin penuh nafsu, bahkan sering pergi berdua. Bayangan mimpi buruk itu akhirnya jadi kenyataan. Ny. Ninuk memergoki Muryadi menindih anak tirinya dalam kamar.

Langsung saja Ninuk jijik melihat suaminya. Ini lelaki cap apa, emaknya mau, anaknya juga doyan. Ewa segitu Muryadi masih berkelit, yangt mulai justru Watik sendiri. Muryadi sebagai lelaki normal kok merasa sayang menolak rejeki nomplok.
Tapi Ninuk sudah tak percaya, dan kasus ini dibawa ke Pengadilan Agama Surabaya.

Ibarat kendaraan, Ny. Ninuk ngglondhang lagi! (JPNN/Gunarso TS)