Tuesday, 16 October 2018

MUI Imbau Peserta Pemilu Hindari Kegaduhan

Selasa, 25 September 2018 — 12:29 WIB
Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid Sa'adi.(ist)

Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid Sa'adi.(ist)

JAKARTA – Memasukki kampanye Pemilu 2019, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau kepada peserta Pemilu baik pasangan capres/cawapres, para caleg, partai politik, tim sukses, dan juru kampanye dapat menciptakan suasana yang kondusif,  dan menghindari kegaduhan.

“Dalam  menyampaikan pendapat harus tetap mengindahkan nilai-nilai kesantunan, kepatutan, akhlak mulia, serta menjauhkan diri dari praktik politik kotor seperti kampanye hitam,  provokasi, intimidasi, ujaran kebencian, hoaks, fitnah,  politik uang dan politik SARA, ” kata Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi di Jakarta, Selasa (25/9/2018).

Ia menilai Pemilu adalah sarana untuk memilih pemimpin nasional melalui sistem pemilihan yang demokratis, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

” Tujuan Pemilu tidak hanya sekedar memilih dan mengganti pemimpin saja, tetapi lebih dari itu adalah membangun sebuah peradaban bangsa yang religius, maju, demokratis, berdaulat, adil dan sejahtera,” kata Zainut.

Sebab itu, lanjut Zainut,  MUI memberikan apresiasi kepada para peserta Pemilu yang sudah menyatakan komitmennya  untuk menyelenggarakan Pemilu secara damai. Komitmen tersebut harus dibuktikan dengan tindakan nyata, bukan hanya sekedar pemanis bibir belaka.

MUI bersikap bahwa perbedaan pilihan hendaknya disikapi dengan penuh kedewasaan, saling menghormati dan saling memuliakan. Mendahulukan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok dan golongan. Menjunjung tinggi semangat persaudaraan, persatuan dan kesatuan.

“Jadikanlah perbedaan aspirasi politik sebagai rahmat untuk saling menghormati dan memuliakan agar persaudaraan sebagai bangsa tetap terpelihara,” ujar Zainut.

Selain itu, MUI juga menghimbau para penyelenggara Pemilu wajib bersikap jujur, adil dan profesional agar dapat terselenggara Pemilu yang tertib, aman, damai dan bermartabat. Sehingga rakyat dapat menggunakan hak pilihnya dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, merasa gembira dengan tanpa adanya tekanan dan paksaan.(Johara/tri)