Tuesday, 18 December 2018

Demi Piala Oscar Kenya Perbolehkan Putar Film Lesbian

Rabu, 26 September 2018 — 1:17 WIB
Homoseksual dianggap ilegal di Kenya.

Homoseksual dianggap ilegal di Kenya.

KENYA– Pengadilan di Kenya mencabut larangan pemutaran film tentang hubungan lesbian selama seminggu agar film itu bisa diikutkan di ajang penghargaan Piala Oscar.

Sebelumnya, April lalu, Badan Klasifikasi Film Kenya melarang pemutaran film berjudul Rafiki dengan alasan “mempromosikan lesbianisme”.

Namun, Hakim Wilfrida Okwany memutuskan untuk mengizinkan pemutaran film ini selama tujuh hari agar bisa bersaing di piala Oscar, yang mensyarakan bahwa film yang dikompetisikan sudah beredar di bioskop umum

Homoseksualitas dianggap ilegal di Kenya, berdasarkan hukum warisan pemerintahan era kolonial Inggris.

Rafiki, yang berarti “teman” dalam bahasa Swahili, menceritakan dua perempuan muda yang bertemu dan jatuh cinta.

Percintaan mereka tumbuh dengan latar belakang masyarakat yang homofobia dan intoleran, di negara yang menetapkan bahwa hubungan seks sesama jenis adalah pelanggaran hukum.

Rafiki menjadi film pertama dari Kenya yang tampil di Festival Film Cannes pada bulan Mei lalu.

Tapi, film itu dilarang tayang di Kenya sebulan sebelumnya karena alur cerita lesbiannya, dan film itu dituduh “berusaha melegitimasi hubungan asmara lesbian” oleh badan klasifikasi film Kenya.

Tanpa keputusan hakim ini, Rafki ini terancam tak bisa disertakan di Academy Award atau Oscar. Karena untuk bisa bersaing di ajang Academy Awards, suatu film harus diputar setidaknya selama tujuh hari berturut-turut di tempat pemutaran film komersial.

Akun Twitter film ini mengumumkan bahwa akan segera dilakukan pemutaran film itu di ibukota Kenya, Nairobi.

Dalam putusan pada hari Jumat (21/9), hakim Okwany mengizinkan pemutaran film itu, namun hanya untuk “orang-orang dewasa yang bersedia menontonnya”.

Ia mengatakan “tidak yakin bahwa Kenya dalah masyarakat yang lemah yang landasan moralnya akan terguncang dengan melihat film seperti itu”.

Namun, kepala Badan Klasifikasi Film Kenya, Yehezkiel Mutua, tidak senang dengan keputusan itu, dengan alasan “homoseksualitas bukan cara hidup kita”.(BBC)