Saturday, 20 October 2018

Menuju Penduduk Berkualitas

Kamis, 27 September 2018 — 7:15 WIB

Oleh H .Harmoko

LAJU pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini masih berkisar di angka 1,49 persen. Dengan begitu, setiap tahun penduduk Indonesia bertambah sekitar 4 juta orang. Tahun ini diprediksi jumlah penduduk Indonesia mencapai 265 juta jiwa. Besarnya penduduk menjadi kekuatan bagi negara, tetapi di sisi lain bisa menjadikan beban, jika tidak dikelola secara baik.

Beragam program mengerem laju pertumbuhan penduduk terus dilakukan, di antaranya melalui program keluarga berencana (KB) yang sudah sejak lama dilakukan. Sayangnya program KB sejak era reformasi terabaikan.

Kini, saatnya program KB makin digalakkan. Peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia, Rabu ( 26 September) hendaknya dapat dijadikan momen menggalakkan program KB yang bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk.

Karena itu tidaklah berlebihan sekiranya menaruh harapan dalam memperingati Hari Kontrasepsi tidak hanya diwarnai seremonial, bagi – bagi alat kontrasepsi seperti kondom. Tapi lebih kepada program nyata dan mengena.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 dan 2012 menunjukkan program KB masih berjalan di tempat. Angka kelahiran mengalami kenaikan 2,4 persen. Persentase pemakaian kontrasepsi modern mengalami penurunan hingga 57.6%, serta persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi menunjukkan angka yang masih tinggi yaitu 17.5%.

Di era sekarang, program KB tidak sekadar diarahkan mengerem laju pertumbuhan, yang utama meningkatkan mutu penduduk Indonesia. Karena itu program KB harus disinergikan dengan program lain seperti yang mendukung peningkatan keahlian kaum perempuan di bidang seni, ekonomi dan budaya. Ini dikandung maksud untuk mencapat target komposisi penduduk yang seimbang dengan wilayah hunian, jumlah yang terkendali, penduduk yang bermutu ( berkualitas), juga penduduk yang sehat dan sejahtera.

Menciptakan penduduk berkualitas memang tidaklah mudah, tidak bisa serta merta ibarat membalik telapak tangan. Perlu sejumlah syarat pendukung , di antaranya peningkatan pendidikan dan keterampilan. Pemerintah sendiri perlu menaruh perhatian lebih dengan memberikan akses yang cukup bagi penduduk, khususnya masyarakat di pedesaan dalam pelayanan pendidikan dan kesehatan.

Mengapa? Karena program KB sudah semestinya lebih diarahkan kepada penduduk yang tinggal di daerah pedesaan dan permukiman padat. Ada hubungan linier antara perempuan yang hanya berprofesi murni sebagai ibu rumah tangga dengan tingkat kelahiran.

Data kependudukan menyebutkan, tingkat kelahiran pada ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan lebih tinggi ketimbang ibu rumah tangga yang bekerja.

Itulah sebabnya, peran perempuan dalam program KB tidak sebatas sebagai objek, tetapi subjek. Tidak sekadar pemakai kontrasepsi untuk mengatur kelahiran, tetapi ikut terlibat langsung bagaimana merancang masa depan keluarga. Terlibat dalam kegiatan produktif. Dalam mengembangkan program UMKM, koperasi, kuliner, wisata dan budaya serta upaya menggali segenap potensi lokal hendaknya melibatkan secara langsung kaum perempuan di dalamnya. Jika perlu perempuan menjadi motor penggerak.

Intinya, bagaimana melibatkan secara penuh perempuan dalam kegiatan untuk membangun dirinya, keluarganya dan masyarakat lingkungan.

Ini satu dari sekian upaya mengendalikan laju pertumbuhan penduduk. Masih banyak terobosan yang bisa dilakukan agar program KB tidak sebatas menekan laju pertumbuhan penduduk. Tapi yang lebih utama meningkatkan kualitas penduduk.

Tentu menjadi tidak cukup berarti, jika jumlah penduduk sedikit tetapi tidak berkualitas. Yang lebih baik dan efektif adalah jumlah penduduk sedikit tapi berkualitas.

Itulah sebabnya perlu ada perubahan paradigma berpikir mengenai kontrasepsi yang tidak melulu memberi pemahaman soal penggunaan alat kontrasepsi yang baik dan benar, merancang kehamilan dan memelihara kehamilan. Tetapi mengusung program berkelanjutan bagaimana merawat, mendidik anak dan memberikan asupan ilmu dan pengetahuan, etika dan budaya, nilai – nilai moral sehingga kelak menjadi anak yang tidak saja berkualitas secara fisik, keilmuan, juga telah tertanam bibit integritas moral.

Itulah karakter manusia berkualitas yang dibutuhkan era kini dan mendatang.
Untuk menciptakan generasi penerus yang berkualitas, berintergritas, beretos kerja dan memiliki semangat gotong royong yang tinggi, peran orangtua sangat dibutuhkan. Ibu dan ayah harus berperan dalam asah, asuh dan asih. (*)