Tuesday, 18 December 2018

Mengganggu Istri Tetangga Sopir Merenggang Nyawa

Jumat, 28 September 2018 — 7:30 WIB
sabet

BIAR cuma sopir, Pendi, 42, masih laku di bursa percewekan. Istri tetangga sekaligus kerabatnya, Heni, 25, diselingkuhi. Tentu saja Tambeng, 28, selaku suaminya marah besar. Pak Kades mencoba mendamaikan, tapi gagal. Pendi pun akhirnya merenggang nyawa lantaran ditusuk lehernya. Jleb…..

Sudah berulangkali dikatakan di sini, secantik apapun istri tetangga, itu hanyalah ikan hias. Publik hanya bisa melihat dan mengagumi keindahannya, tak mungkin bisa memiliki, apa lagi menikmati. Tapi setan segera menimpali, biar sekedar ikan hias, jika berhasil menggorengnya rasanya gurih juga. “Kalau tak percaya, silakan coba!” kata setan menjadi tukang kompor.

Nah, Pendi warga Dolok Masihul, Serdangbedagai (Sergai), sepertinya tak tahu seperti apa kelakuan setan. Seruan gabener ini malah masuk pertimbangannya. Kebetulan dia memang sedang naksir Ny. Heni, tetangga sendiri. Dia cantik, masih muda jauh dari usia emak-emak, dan dijamin pasti enak! Maksudnya, enak diajak ngobrol, gitu.

Heni memang lawan bicara yang menarik, mau mendengarkan omongan lawan bicaranya. Timbal balik. Sebab ada juga sosok manusia meski sudah kenal lama, hanya mau menjawab ketika ditanya, tapi tak pernah mau balik bertanya tentang lawan bicaranya. Dan Heni bukan tipe begitu, karena memang tidak sombong karakternya.

Karena disuport setan, Pendi jadi makin berani mendekati Heni dan siap menggorengnya bila memungkinkan. Di kala suaminya tak di rumah, Pendi mengajak ngobrol ngalor ngidul. Karena Heni memang lawan bicara yang enak, obrolan itu menjadi semakin gayeng.

Ditambah ilmunya mendekati wanita, sepertinya target Pendi makin lancar saja. Di kala rumah Heni sepi karena suami tak ada, berhasilah dia “menggoreng” ikan hias itu dengan bumbu asam manis. Wih….., rasanya! Pulennya pas, kerasnya pas, asinnya juga pas. Pokoknya maknyussss……lah!

Sejak itu asal situasi dan kondisi memungkinkan, kembali Pendi menggoreng Heni si ikan hias. Kadang pakai merica hitam, atau bawang bombay. Tapi suatu saat, Tambeng berhasil memergoki Pendi keluar dari rumahnya dengan sikap mencurigakan. Jangan jangan, jangan jangan……jangan gori!

Istrinya pun diinterogasi. Awalnya tidak mengaku, tapi lama-lama ngaku bahwa Pendi memang sering ke rumahnya minta “jatah”. Karena persediaan aman sampai Lebaran dan Tahun Baru, ya dikasih saja. Emangnya daging sapi, apa?

Pendi pun dikejarnya, dan ributlah antar tetangga. Pak Kades sampai datang untuk mendamaikan warganya yang tengah berseteru memperebutkan ikan hias terseburt. Ketika Pendi – Tambeng sudah bersalaman tanda damai, Pak Kades pun pun pulang.

Tapi malam harinya Tambeng kembali datang ke rumah Pendi, dan kembali menuntaskan amarahnya. Sudah tua bangkotan, mestinya kalau mau ganggu bini orang, ya cari yang emak-emak kek, yang kata Sandiaga Uno belanja Rp 100.000,- hanya dapat bawang dan cabe.

Karena Pendi tetap ngeyel, pisau pun dicabut dan dihujamkan ke leher Pendi mak jleb! Pengganggu bini tetangga itu pun tewas seketika. Kebetulan polisi tengah patroli, sehingga Tambeng dengan mudah diamankan.

Ini namanya goreng ikan hias ketumpahan minyak mendidih. (JPNN/Gunarso TS)