Tuesday, 16 October 2018

Tinggal Serangan Umum Pengantin Wanita Kabur

Sabtu, 29 September 2018 — 7:58 WIB
malam

KASIHAN Sandiko, 33, dari Surabaya ini. Sudah kelamaan jadi perjaka tua, begitu menikah istrinya, Surtini, 31, malah kabur menjelang “serangan umum” non 1 Maret 1949. Kata dukun yang dihubungi, Surtini kena guna-guna kekasih lamanya di Kalimantan. Karena sudah 3 bulan tak kembali juga, diikhlaskannyalah.

Umur sudah kepala tiga belum juga menikah, orangtua sangat mencemaskan anak-anaknya. Maka dicarilah jasa makcomblang untuk beburu jodoh buat putra atau putrinya yang belum juga diserap pasar. Ada kalangan dapat pasangan yang tepat, tapi tak jarang pula yang meleset jauh dari harapan. Targetnya membentuk keluarga sakinah, eh yang didapat malah musibah.

Sandiko warga Krembangan Surabaya, termasuk lelaki yang telat kawin. Umur sudah 32 tahun lebih belum juga ketemu jodoh. Maka teman-temannya suka meledek, jika sampai usia 35 tahun juga belum punya istri, ujung-ujungnya kawin sama emak-emak. “Nah, kalau mau emak-emak militan, tinggal pesan sama Cawapres Sandiaga,” kata teman Sandiko.

Tak tahulah kenapa Sandiko seret jodoh. Padahal sudah kerja jadi PNS, tampang juga lumayan, tapi belum ada juga wanita yang berkenan jadi pendampingnya. Mungkin sarat yang diajukan Sandiko terlalu tinggi, karena dia pernah bilang, “Istri cantik nggak jadi masalah, yang penting kaya.”

Akhirnya orangtua turun tangan, Sundiko diperkenalkan dengan gadis Surtini, putri temannya, yang juga sudah sama-sama berumur. Alot ketemu alot, jadilah! Keduanya ternyata cocok, artinya Sundiko bisa menerima Surtini, dan Surtini bisa menerima meberima Sundiko. Keduanya pun lalu sering jalan bareng, untuk beradaptasi.

Tiga bulan berikutnya Sundiko-Surtini pun menikah resmi, dengan resepsi di rumah sendiri. Tamunya banyak, karena orangtua Surtini termasuk orang terpandang, paling tidak mudah dipandang (dilihat) karena memang bukan lelembut (makhluk halus).

Resepsi itu sampai pukul 21.00 malam. Selesai tamu bubaran, pengantin baru itu pun masuk kamar untuk ganti pakaian dan istirahat. Sundiko sudah membayangkan, sebentar lagi “serangan umum” non 1 Maret 1949 bakal terjadi dengan serunya. Peluru duabelas komah tujuh akan dilepaskan der, dorrr….. Pokoknya Belanda nggak dikasih ampun.

Ternyata Surtini yang pamitnya ke kamar mandi, sampai berjam-jam tak kunjung kembali. Dicari ke sana kemari tidak ada, padahal dia tak membawa apa-apa. Tapi sampai pagi, Surtini ternyata tak kembali. Batalah Sundiko melakukan serangan umum. Mau menyalahkan siapa? PBB, enak saja!

Sampai seminggu bahkan sebulan Surtini yang sudah resmi jadi istrinya tak pernah kembali. Tak ada pesan apa-apa, kecuali SMS yang mengatakan mau pergi jauh. Sejak itu HP-nya tak bisa lagi dikontak. Setelah 3 bulan tak bisa diharapkan lagi Sundiko pun datang ke paranormal, katanya Surtini memang diguna-guna eks pacarnya dulu di Kalimantan. Kemungkinan dia sudah bergabung ke sana.

Sundiko minta si dukun untuk menarik Surtini kembali, dengan ilmu canggihnya. Tapi Mbah Dukun menolak, sebab ilmu dia ibarat komputer sudah Windows 7 sedangkan Mbah Dukun masih pakai Windows XP.

Pantesan eror melulu Mbah. (JPNN/Gunarso TS)