Tuesday, 16 October 2018

Emak-Emak jadi WIL Tetangga Anak Si Emak yang Naik Pitam

Selasa, 2 Oktober 2018 — 7:25 WIB
pentung

SEBAGAI anak, Suntoro, 27, sungguh malu ibunya yang sudah emak-emak, kok jadi WIL tetangga sendiri. Dia sudah ingatkan Rusmanto, 54, jangan ganggu ibunya. Tapi tak digubris. Saking kesalnya, Rusmanto dilabrak. Di depan anak istrinya, Rusmanto dipentung cengel (tengkuk)-nya sampai terkapar dan tewas!

Emak-emak rupanya kini sedang naik daun. Tak hanya digandeng Cawapres Sandiaga Uno untuk mendongkrak suara, tapi dipakai juga oleh banyak lelaki untuk mendongkrak syahwatnya. Katanya, biar emak-emak masih enak. Enak bagi para praktisinya, tapi bagi keluarganya pastilah memalukan. “Enak, enak…matamu itu! Itu emak gue, tahu”, maki seorang keluarga korban, niru-niru Kabulog Buwas..

Lelaki paling kesal bin jengkel se Kabupaten Boyolali (Jateng) ini mungkin Suntoro. Bagaimana nggak kesal, di kala bapaknya jadi TKI kok ibunya munyal-munyal (semau gue) pacaran dengan lelaki tetangga sendiri. Malu dan mangkel dioblos jadi satu, karena tetangga selalu menyindir kelakuan ibunya.

Suami Ny. Miyanti, 47, memang sejak enam tahun lalu jadi TKI dan diperpanjang terus. Pulang ke Indonesia hanya pas di kala Lebaran saja. Meski sudah emak-emak, tapi Miyanti masih enerjik juga, apa lagi soal begituan. Sayangnya, sejak suami jadi tenaga kerja luar negri, dia jarang sekali merasakan tenaga kuda suami. Hidupnya benar-benar sepi. Kalau sepinya hidup Kus Plus, masih bisa dihibur dengan nyanyi-nyanyi. Lha kalau sepinya Ny. Miyanti?

Adalah tetangga dekat Ny. Miyanti, lelaki bernama Rusmanto. Diam-diam ternyata dia jadi seorang pengamat. Bukan pengamat politik macam Burhanudin Muhtadi atau Yuniarto Wijaya, tapi pengamat bini tetangga yang lama ditinggal suami. Memang, sejak suaminya jadi TKI, Rusmanto selalu mengamati gerak langkah Ny. Miyanti istrinya.

Celakanya, Rusmanto bukan sekadar mengamati, tapi juga ingin menikmati. Soalnya, meski sudah emak-emak, penampilan Ny. Miyanti ini masih sangat menjanjikan. Bodinya masih sekel nan cemekel, bibirnya yang setipis kartu ATM , sungguh menggemaskan bagi Rusmanto. “Kayaknya masih enak dipacari dan perlu.” Kata batin Rusmanto.’

Meski di rumah sudah ada anak istri, diam-diam dia mendekati Miyanti. Dia yakin menuai sukses, karena lama ditinggal suami pasti selalu kedinginan, dan Rusmanto siap jadi penghangat di kamarnya. Dan ternyata prediksinya betul, hanya dalam satu putaran Miyanti sudah bisa menerima cintanya. Karena sudah berkoalisi, otomatis dilanjutkan dengan eksekusi.

Jadi Rusmanto sudah seperti berbini dua saja layaknya. Bosen ke istri, menggilir Miyanti. Jenuh ke WIL balik ke istrinya. Begitu selalu, sampai kemudian ketahuan oleh Suntoro, anak sulung Miyanti. Rusmanto ditegur, supaya jangan lagi mendekati ibunya. “Wani ngemek, mati!” ancam Suntoro, mirip papan peringatan di gardu listrik peninggalan Belanda.

Tapi ternyata peringatan itu tak digubris, sampai tetangga menegor Suntoro. Wong sudah emak-emak kok masih kegatelan, mending jadi relawan cawapres yang membutuhkan jutaan emak-emak sebagai pendukung. Tentu saja Suntoro malu sekali. Merasa peringatannya tak digubris, dia mendatangi rumah Rusmanto sambil membawa pentung kayu jati.

Kembali dia mengingatkan, di depan anak istrinya malah. Tapi Rusmanto tak menggubris. Suntoto jadi kalap, dan digebuklah cengel PIL-nya sang ibu dengan pentungan itu. Begitu kerasnya pukulan, Rusmanto langsung terkapar dan tewas. Suntoro pasrah saja ditangkap polisi. “Saya nggak bermaksud membunuh, cuma mau kasih pelajaran.” Kata Suntoro menyesal.

Contoh Pak Guru, kalau kasih pelajaran pakai tuding, bukan pentungan! (KR/Gunarso TS)