Saturday, 20 October 2018

Dari Jualan Kopi di Emperan Toko Kini Buka Kedai di Mal

Rabu, 3 Oktober 2018 — 6:40 WIB
Ratman Suryatman

Ratman Suryatman

BERKEMBANGNYA budaya minum kopi di masyarakat berdampak kepada tingginya permintaan produk ini. Bahkan, agaknya kini minum kopi bisa dikatakan sudah menjadi gaya hidup generasi milenial.

Kondisi itu ternyata menjadi peluang usaha bagi sebagian orang. Peracik kopi alias barista, Ratman Suryatman, salah satunya, yang meniti usahanya mulai berjualan di trotoar hingga mampu membuka kedai kopi.

Waktu itu, pria yang akrab disapa Mang Kopi ini membantu usaha di kedai kopi milik saudaranya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sebab, usaha yang selama ini dia geluti di bidang percetakan mengalami kemerosotan lantaran menjamurnya bidang yang sama di lokasi tersebut.

“Memang nggak disengaja ke dunia perkopian. Mulanya bantu-bantu di kedai kopi di Jakarta Utara di Cilincing (koplo). Eh, ternyata peminatnya waktu itu semakin ramai,” kenang warga Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat ini.

Seiring waktu berjalan, selama di kedai kopi itu dia lebih mengenal lebih banyak seputar perkopian. Mulai varietas hingga meracik kopi yang baik dan benar. Di saat itu pula, ketertarikan akan perkopian kian tertanam di jiwanya. Diputuskanlah memfokuskan diri mempelajari lebih banyak seputar dunia perkopian.

MODAL DAN LOKASI

Sekitar pertengahan 2017, dia kembali ke kampung halamannya ke Cibadak, Sukabumi. Meski awalnya dengan sedikit keraguan membuka usaha sendiri lantaran keinginannya dekat dengan keluarga, terutama dua buah hatinya, juga tersandung modal dan lokasi jualan.

“Akhirnya saya putuskan berjualan di emperan toko di kawasan Leuwigoong, Cibadak. Saya ingin warga menikmati kopi berkualitas meski dari pedagang di trotoar. Tentunya dengan harga bermasyarakat, sekitar Rp 8 ribu hingga Rp15 ribu,” ceritanya dengan mata menerawang perjuangan awalnya.

Akhirnya dengan bermodalkan Rp 4 juta, dia memutuskan membuka kedai kopi di kawasan Pusat Jajanan Serba Ada (Pujasera) Cibadak. Lokasinya dia namai “Indo Coffee” (Wargi Kopi).
“Alhamdulillah baru tiga bulan saya membuka tempat ini. Untuk saat ini saya baru menyediakan dua menu kopi, robusta dan arabika,” paparnya.

Untuk menjaga dan meningkatkan skill baristanya, Mang Kopi tanpa kenal lelah kerap mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan. Termasuk masuk ke komunitas-komunitas barista, baik lokal hingga nasional.

“Tekad saya mengenalkan terus kopi kepada masayarakat. Mulai proses, khasiat, hingga mengonsumsi yang benar. Saya optimis perkopian di Sukabumi akan menggeliat nantinya,” bebernya. (sule/fs)