Thursday, 13 December 2018

Gerakan Peduli Bencana

Rabu, 3 Oktober 2018 — 6:53 WIB

GEMPA dan tsunami di Palu, Sigi, Donggala Sulteng memunculkan kepedulian masyarakat dengan beragam bentuk dan aktivitasnya. Spontan anggota masyarakat tergerak menghimpun bantuan. Tak sedikit oragnisasi masyarakat/ organisasi sosial/komunitas/paguyuban secara suka rela menghimpun sumbangan untuk saudaranya yang sedang tertimpa musibah.Begitu juga karyawan instansi pemerintah dan swasta.

Inilah gambaran masyarakat Indonesia yang sejatinya memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi terhadap sesama tanpa melihat latar belakang suku, agama, ras dan golongan.

Gerakan peduli sosial begitu masif. Keprihatinan begitu jelas terekam. Rasa empati mencuat dari seantero negeri menyaksikan kondisi terkini korban gempa dan tsunami. Indonesia berduka atas musibah yang meluluhlantahkan sebagian bumi Sulawesi.

Korban meninggal dunia hingga Selasa (2/10) sore kemarin sudah 1.234 orang. Jumlah korban diduga masih terus bertambah, meski kita berharap korban yang belum terindentifikasi ditemukan dalam keadaan sehat dan selamat.

Sejenak kita perlu merenung atas musibah ini untuk memperdalam rasa empati dengan makin giat beraksi menggalang donasi.

Ini menjadi momet tepat menggerakkan kepedulian sosial, di saat masyarakat secara gotong royong tergerak menghimpun bantuan secara suka rela tanpa paksaan. Meski gempa dan tsunami di Sulteng tidak ditetapkan sebagai bencana nasional, bukan lantas membatasi gerakan nasional peduli sosial.

Pemerintah perlu memfasilitasi dan mencarikan solusi agar bantuan sosial masyarakat untukkorban gempa dan tsunami dapat tersalurkan secara baik.

Kami mengapresiasi sejumlah pihak yang menghentikan sementara akrivitas politiknya ( kampanye) ke wilayah yang terkena gempa dan tsunami. Kurang elok di saat warga sedang terkena musibah /bencana, perlu banyak bantuan / pertolongan, malah parpol atau kader parpol menggelar kampanye.

Yang lebih penting lagi adalah menutup kampanye terselubung terjadi di sana. Sebab, acap terjadi masyarakat yang sedang kesulitan seperti korban bencana alam dan sosial menjadi objek kampanye terselubung. Dengan alasan memberi bantuan/ sumbangan, tetapi sejatinya menyisipkan pesan – pesan kampanye.

Karena itu perlu diatur sedimikian rupa agar bantuan dari parpol atau caleg dilarang menyisipkan tanda gambar caleg dan parpol sebagai peserta pemilu. Jika sudah terdapat gambar dan nomor urut yang harus dicobos, sudah terindikasi adanya kampanye.

Sebutkan saja nama pribadi jika ingin diketahui siapa penyumbangnya. Soal pilihan, serahkan kepada mereka yang menerima bantuan.

Kami berharap bantuan dilakukan karena semata bentuk kepedulian. Bukan atas dasar kepentingan dan rekayasa politik.(*).