Monday, 15 October 2018

Sopir Taksi Lebih Bergengsi Ketimbang Penjual Es Batu

Kamis, 4 Oktober 2018 — 7:35 WIB
ke hotel

SOPIR taksi jauh lebih bergengsi ketimbang penjual es batu. Karenanya, Asminah, 25, lebih memilih Wakidi, 30, yang jadi sopir taksi ketimbang suami yang hanya penjual es batu. Tapi sial, ketika Asminah diajak kencan Wakidi di hotel, eh…..dipergoki oleh Darmin, 28, suaminya. Wakidi pun tewas ditusuk.

Jika cinta itu dikurs dengan materi, jelas pekerjaan narik taksi lebih bergengsi ketimbang jadi penjual es batu. Padahal, jaman Orde Baru dulu Wapres Try Sutrisno sering mengatakan, jangan mendikotomikan antara sipil dan militer. Lha kok setelah era reformasi, hanya soal sopir taksi saja dikotomikan masyarakat akar rumput dengan penjual es batu. Tentu saja tidak nyambung.

Darmin yang penjual es batu asal Bangkalan (Madura) ini sangat tersinggung ketika istrinya, Asminah, mendikotomikan dirinya dengan Wakidi sopir taksi Primatrans Juanda. Kata istrinya, penghasilan sopir taksi lebih banyak ketimbang jualan es batu. Sopir taksi narik satu jam dua jam sudah dapat duit banyak. Tukang es batu, sampai tangan beku ngurusi pecahan es, buat makan sehari-hari tidak cukup.

Awalnya Darmin tak curiga dengan  pendapat istrinya itu. Kala itu hanya dianggap sebuah dorongan istri pada suami demi ekonomi berkemajuan. Ternyata belakangan diketahui, Asminah memang punya PIL seorang taksi. Nelangsa banget rasanya. Dia mengutuk dirinya sendiri, kenapa nama saja kok ya cuma Darmin thok. “Coba ditambah Nasution, kan saya diangkat jadi Menko Perekokonomian,” gumamnya.

Tapi bagaimana mau jadi menteri, lha wong sekolahnya saja SMP tidak tamat. Maka bisa jadi pedagang es batu itu sudah lumayan, wong nyatanya Asminah juga mau diperistri sejak 4 tahun lalu. Kata istri saat masih pacaran, “Aku selalu merasa adem di sampingmu Mas.” Iya saja, wong pacarnya tukang es batu!

Tapi sekian lama jadi bini tukang es batu, ekonomi tidak berkemajuan. Maka Asminah menyarankan Darmin jadi sopir taksi saja. Meski bukan PNS dan tanpa tunjangan sertifrikasi, hasilnya lebih menjanjikan buat keluarga. Tapi Darmin tak pernah menanggapi serius, memangnya jadi sopir taksi SIM-nya boleh pakai daun dilaminating?

Seperti sudah ada yang mengaturnya, beberapa bulan lalu Asminah kenal dengan seorang sopir taksi bernama Wakidi. Lama-lama keduanya akrab, katena berkomunikasi terus lewat HP. Ditambah suka diberi uang, akhirnya Asminah mau saja diajak chek in di hotel bilangan Sedati, Sidoarjo. Gara-gara kenal Wakidi, defisit anggaran di rumah terbantukan barang sedikit. Sebab setiap ada pelayanan bonggol, Asminah diberi benggol.

Beberapa hari lalu Darmin mengajak jalan-jalan istrinya, tapi tidak mau. Lha kok beberapa menit kemudian Asminah berdandan dan pamitan mau pergi ke rumah teman. Darmin mengijinkan saja, tapi diam-diam dia membuntuti. Ternyata dia kemudian pergi bersama sopir taksi dan menuju ke sebuah hotel di Sedati.

Sebelum Wakidi-Asminah masuk kamar, Darmin berhasil mencegatnya, dan ributlah mereka. Karena sopir taksi itu tak mau mengakui kesalahannya, si tukang es batu yang biasanya adem, kali ini panas juga. Pisau yang disembunyikan dikantong diayunkan dan kena dada Wakidi, langsung tewas di tempat. Dalam pemeriksaan polisi dia mengaku cemburu, karena istrinya lebih cinta ke sopir taksi ketimbang dirinya.

Kedinginan tiap hari, bisa kena angin duduk. (JPNN/Gunarso TS)