Friday, 14 December 2018

Istri Ngidam Kok Dimarahi Lha Siapa yang Bikin Hamil?

Jumat, 5 Oktober 2018 — 6:52 WIB
ogah jadi bini

LOGIKA berfikir Mangudi, 32, terbalik-balik. Istri muntah-muntah karena ngidam, mestinya senang, tapi dia malah marah. Katanya bikin kotor. Keruan saja Nursiti, 28, tak tahan punya suami pemarah dan suka main pukul. Sejak hamil 7 bulan dia kabur ke rumah orangtua dan setelah bersalin minta cerai.

Dalam kehidupan sehari-hari tak pernah lepas dari hukum sebab akibat. Makan menyebabkan kenyang, begadang bikin ngantuk, kurang minum jadi haus. Begitu pula minum bir bikin mabuk, merokok bisa kena kanker paru-paru. Paling ekstrim, pacaran kelewat batas bisa hamil nganggur karena cowoknya kabur. Dan seterusnya, bla bla bla….

Mangudi warga Rungkut, Surabaya ini sepertinya tak paham hukum sebab akibat. Istri hamil setelah beberapa bulan menikah dengannya, kan mestinya bersyukur. Tapi dia tidak, justru marah. Bukan soal hamilnya, tapi muntah-muntahnya itu lho. Sebentar-sebentar muntah, kalau tak sempat ke toilet ya hoeek-hooek di ruang tamu atau dapur. Bahkan pernah kejadian, Nursiti muntah-muntah saat dibonceng motor, eh….motornya langsung dibanting gubrakkkkk…..

Padahal jika ingin istri tidak nyidam dan kemudian muntah-muntah, caranya gampang!  Ya istri jangan hamilah. Kalau tidak pakai alat kontrasepsi, ya puasa serangan umum. Mampukah punya istri hanya dijadikan monumen, sama sekali tak pernah disentuh, atau wastra lungsed ing sampiran kata orang Jawa.

Mana mampu Mangudi “tirakat” seperti itu. Wong andaikan saja Nursiti siap dan tidak capek, suami mengajak berbagi cinta seperti minum obat, tiga kali seminggu sesendok makan. Mangudi sih enak, tapi Nursiti yang kodok kalungkupat, awak boyok sing gak kuat (pinggang mau putus).

Paling bikin  Nursiti korban perasaan, Mangudi ini orangnya temperamental, gampang  marah. Jika spaneng sudah naik sampai 220 volt, muka merah seperti Prabu Baladewa wayangkulit, langsung main tempeleng. Tapi giliran mau ambil “jatah” sok ramah, ndhepe-ndhepe (merajuk) macam Ketum parpol minta jatah kursi kabinet.

Demikianlah, gara-gara nyidam dan muntah-muntah, Nursiti kenyang kena tempeleng suami, padahal dia hamil juga akibat ulah suaminya. Boleh dikata, tiada hari tanpa tempeleng. Mukanya jadi simpang siur. Maka ketika tetangga bertanya, habis operasi sedot lemah di wajah kayak Ratna Sarumpaet ya, dia menjawab jujur: “Bukan, ini bekas ditempeleng suami.”

Habisnya, mau bohong takutnya malah blunder, jadi masalah dan mengganggu Pilpres. Tapi kejadian yang terakhir ini, sungguh bikin tidak tahan Nursiti. Orang perut sudah makin gede, kok masih rajin main gebuk. Maka malam-malam pas suami tidur, dia nekad kabur dari rumah. Pukul 22.00 sudah tak ada angkot, naik taksi duit tidak cukup. Terpaksa dia menyetop mobil pribadi yang lewat.

Sialnya tak ada yang mau berhenti. Sekali ada yang berhenti, tapi begitu mohon numpang tidak boleh. Nursiti yang sudah kadung naik dipaksa turun oleh pengemudi wanita yang tak punya hati itu. Terpaksa turun lagi, sampai ketemu bapak-bapak pengendara sepeda motor. Awalnya curiga, tapi setelah pakai “konprensi pers” barang beberapa menit, si bapak jadi  kasihan dan siap mengantarkan ke rumah orangtuanya yang berjarak 5 Km.

Tapi sejak itu Nursiti sudah tak mau kembali ke pangkuan suami. Meski disusul Mangudi, jawabnya tetap no! Paling diajak pulang hanya mau diajak “oh yes oh no” saja. Nursiti sudah tak sudi meski itu kewajiban istri. Dan setelah bayinya lahir, dia menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya. “Kalau saya tetap jadi istri Mangudi, bisa mati muda saya.” Kata Nursiti.

Oh yes, #2019gantisuami ya mbak? (JPNN/Gunarso TS)