Sunday, 16 December 2018

Prajurit Belum Sejahtera

Jumat, 5 Oktober 2018 — 4:52 WIB

HARI ini, 5 Oktober 2018 Tentara Nasional Indonesia (TNI) memasuki usia ke 73 tahun. Berbagai perubahan di institusi militer telah dirasakan masyarakat. Tentara tidak lagi terkesan ‘galak’ dan kaku, sebaliknya semakin dekat dengan masyarakat. Tentara hadir kapanpun di manapun dibutuhkan.

Di tengah terjadinya bencana alam di Lombok (NTB) dan di Palu serta Donggala (Sulteng) saat ini, tentara hadir di garda terdepan membantu warga. Mulai dari proses evakuasi korban hingga mendistribusikan bantuan, hingga mengangkut warga menggunakan pesawat militer.

Kemanunggalan TNI dan rakyat, tidak dapat dipisahkan karena tentara lahir dari rakyat. Sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan melahirkan tentara rakyat atau TKR (Tentara Keamanan Rakyat), cikal bakal TNI, pada 5 Oktober 1945. Itu sebabnya prajurit selalu hadir di tengah rakyat dalam kondisi apa pun.

Kita harus bangga memiliki TNI yang semakin profesional, kuat dan diakui dunia. Hasil survei tahun ini dari lembaga independen militer, Global Firepower, Indonesia ditempatkan pada urutan ke-15 militer terkuat di antara 138 negara di dunia, dan menjadi yang terkuat di Asia Tenggara.

Kekuatan pasukan ini memang masih jauh dibanding negara adikuasa, Amerika Serikat, yang memiliki 1,3 juta tentara aktif dan 800 ribu personel cadangan. Disebutkan juga, Indonesia memiliki 435 ribu personel militer aktif dan 540 ribu personel cadangan. Selain itu, TNI diperkuat 418 tank, 1.131 kendaraan lapis baja, 456 artileri, dan 153 peluncur roket.

Militer kita juga diakui dunia dalam hal pergaulan internasional. Kontingen TNI selalu hadir dalam misi perdamain di negara-negara yang sedang berkonflik seperti di Bosnia, Lebanon, Palestina, Suriah, dan lainnya. TNI juga terus dituntut meningkatkan profesional.

Tapi di sisi lain, kesejahteraan prajurit masih jauh dari harapan. Menjadi prajurit, memang bukan pilihan yang menjanjikan kemewahan dan kekayaan. Sebagaimana Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, jiwa raga TNI hanya didharmabaktikan untuk bangsa dan negara. Tetapi prajurit juga manusia yang punya kebutuhan keluarga yang semstinya harus dipenuhi negara.

Sebagai gambaran, gaji pokok Tamtama saat ini Rp1,565 juta. Kesejahteraan terdongkrak dari tambahan remunerasi, uang beras dan tunjangan lainnya. Total senilai Rp4,3 juta/bulan diterima Tamtama. Sedangkan gaji pokok perwira tinggi paling besar Rp5,646 juta belum termasuk remunerasi dan tunjangan.

Soal perumahan, ratusan ribu prajurit belum semuanya punya tempat tinggal yang layak. Tak heran bila ada pesiunan tentara atau keturunannya tetap bertahan di rumah dinas alias asrama. Mereka terancam terusir bila telah pensiun. Ini PR besar bagi DPR untuk memperjuangkan parajurit, dan tanggungjawab negara menjamin kesejahteraan patriot bangsa.
Harapan kita, semakin bertambah usia, TNI semakin kuat dan profesional, dan negara harus menjamin kesejahteraan mereka. Dirgahayu TNI. **