Monday, 15 October 2018

Selama 8 Bulan Santriwati di ”Terapi” Oleh Mbah Kiyai

Sabtu, 6 Oktober 2018 — 6:50 WIB
harus disucikan

SEBAGAI Kiyai pemilik ponpes, Mbah Dahnil, 55, sangat disegani orangtua santriwan-santriwati. Apa katanya diikuti, termasuk santriwati Maisaroh, 17. Anehnya, ketika ABG itu minta diobati agar kembali keperawanannya, selama 8 bulan hanya di-“terapi” dengan tindak pencabulan. Keluarganyapun lapor polisi.

Yang namanya kiyai, ilmu agamanya pasti lebih mumpuni. Tapi sayangnya, kedalaman ilmunya tak selalu berbanding lurus dengan keimanannya. Ketika setan penggodanya S3 lulusan Amerika, hal yang sebetulnya haram, bagi oknum kiyai ini menjadi “karem” alias hobi. Sebagai kiyai mestinya banyak berburu pahala, eh….masih juga doyan berburu paha.

Mbah Dahnil pemilik sebuah ponpes di Kutorejo Mojokerto (Jatim), rupanya termasuk oknum kyai yang lebih berat ke urusan “si imin” ketimbang iman. Bayangkan, seorang pemilik ponpes kok sampai dilaporkan ke Polsek Kutorejo gara-gara kasus pencabulan atas santriwatinya. Mau ditaruh mana muka ini? Apa perlu operasi sedot malu dari mukanya. Dokter Tompi ahli bedah plastik, kira-kira mampu nggak melakukannya?

Di lingkungan ponpesnya, Mbah Dahnil memang sangat disegani oleh keluarga santriwan-santriwatinya. Apa yang dinasihatkan, selalu diestokne (diperhatikan). Celakanya, kharisma Mbah Dahnil ini terkena penyusupan setan lulusan S3 Amerika. Sebagai mbah kiyai yang mestinya mungkur kadonyan (meninggalkan duniawi), eh….. melihat bodi santriwatinya yang sekel nan cemekel, mengerucut juga nafsunya.

Santriwati yang menjadi tokoh alternatif baginya adalah Maisaroh. Dalam usia ABG, gadis Maisaroh justru sangat menggiurkan. Lho memangnya Mbah Dahnil tak punya istri? Ya punya sih, tapi sudah emak-emak, sehingga kalau militan cocoknya jadi relawan Capres 2019.

Kepada orangtua Maisaroh dia mengatakan bahwa sepertinya Maisaroh ini sudah tidak suci lagi, alias sudah tidak perawan. Maklumlah gadis era milenial. Tentu saja orangtuanya kaget. Tapi karena yang ngomong Mbah Dahnil yang punya karisma, ibu Maisaroh ini justru minta petunjuk bagaimana mengobati.

“Nggak usah panik, Mbah Dahnil bisa mengobati kok. Percayalah…..” kata Mbah Kiyai memberi jaminan. Dan sejak itu Maisaroh seusai pelajaran dipanggil ke dalem (rumah pribadi) Mbah Dahnil untuk diterapi. Tapi caranya aneh. Maisaroh di dalam kamar diminta melepas baju dan celdamnya, kemudian diraba-raba termasuk gundukan gunung Kawi-Bromo yang berketinggian 5 Cm DPL (Di atas Permukaan Laut).

Begitu itu dilakukan sebulan sekali. Maisaroh diam saja, karena diancam jangan cerita ke mana-mana. Padahal sebetulnya ABG itu risih dan takut. Sebab jika Mbah Dahnil beraksi, sepakterjangnya betul-betul seperti kuda nil dari Afrika, sosrot sana sosrot sini.

Awal mula terungkapnya skandal Mbah Kiyai ini ketika ada salah satu santriwati yang tidak memegang sanksi Mbah Dahnil. Habis “diterapi” dia malah cerita kepada teman-temannya, sehingga jadi viral meski tak diposting di medsos. Sampailah kabar itu tiba di telinga ibu Maisaroh. Ketika ditabayun, Maisaroh mengaku semuanya.

“Tapi saya takut, sehingga pilih diam saja.” Kata Maisaroh terbata-bata. Tentu saja para orangtua santriwati tidak terima, sehingga Mbah Dahnil dilaporkan ke Polsek Kutorejo. Mereka minta oknum kiyai pelahap ABG ini kena sanksi hukum yang setimpal.

Bagi Mbah Dahnil, justru ABG itu bermakna: (A)syik (B)anget (G)uys. BJ/Gunarso TS)