Tuesday, 11 December 2018

Yang Lebih Kejam Daripada Pembunuhan

Sabtu, 6 Oktober 2018 — 6:40 WIB
warung kopi

          Oleh S Saiful Rahim

“MAKANYA belajar ngaji dong. Dan belajarnya jangan di bawah pohon nenas!” Demikianlah kalimat yang langsung masuk ke telinga Dul Karung ketika dia baru melangkahi ambang pintu masuk warung kopi Mas Wargo.

“Waduh! Di warung kopi Mas Wargo rasanya kok kayak di langgar Kong Haji Marzuki aja,” kata Dul Karung setelah mengucapkan assalamu alaykum.

Masya Allah, Dul. Gini-gini kite anak Betawi. Asli lagi! Biar ngaji belon_tentu khatam, tapi sekadar alif itu lempeng kayak tiang, lam bengkok kayak pancing kite tahu,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, yang ketika Dul Karung masuk sedang berdebat dengan temannya soal mengaji.

“Tahu aku. Tapi yang kalian bicarakan bukanlah sekadar “alif” seperti tiang dan “lam” bagai pancing. Yang kalian ributkan itu sekeping ayat 191 dari Surat_Al-Baqarah. “Alfitnatu asyaddu min alqatli.”  Artinya fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.

Limapuluh tiga tahun yang lalu, ayat itu dikutip oleh Allahyarham Jenderal A.H. Nasution ketika akan memakamkan putri beliau Ade Irma Nasution yang gugur sebagai “tameng” sang ayah. Lalu potongan ayat itu sering diucapkan banyak orang,” kata Dul Karung ngelangut teringat tragedi sejarah tersebut.

“Ya benar. Waktu itu aku ikut mengantar jenazah adik kita tersebut. Kami jalan kaki dari Kampus UI di Salemba ke pemakaman Blok P, di Kebayoran Baru. Dengan wajah yang sayu dan duka, di sepanjang jalan orang-orang turut melepas Adek Irma dan memberi kami makanan dan minuman, hingga berjalan sejauh itu tidak terasa letih dan haus,” sambut orang yang duduk di dekat pintu masuk warung kopi Mas Wargo.
“Kita semua tahu hal itu. Apa maksudmu bicara tragedi sejarah kita itu sekarang?” Tiba-tiba ada suara menyela, entah dari mulut siapa dan duduk di mana.

“Kau merasa  hampir saja terjadi lagi huru-hara besar karena fitnah di negeri ini kan?” sambung orang yang duduk persis di kanan Dul Karung.

“Ya. Mulanya begitu,” kata orang yang duduk di dekat pintu masuk warung.

“Ketika mendengar, membaca, dan melihat foto Ratna Sarumpaet dan berita awal yang menyatakan bekas artis tersebut dianiaya tiga lelaki di dalam taksi, langsung hatiku berkata, segera akan menyusul fitnah yang dahsyat nih. Pasti, siapapun orang yang politiknya segaris dengan Ratna akan dengan asyik dan enak menuduh Ratna dianiaya oleh barisan lawan politiknya. Caci maki dan sumpah serapah, bahkan adu jotos akan terjadi di mana-mana. Bahkan Capres Pak Prabwoo sudah siap akan “minta pertanggung-jawaban” Kapolri. Untung saja Ratna cepat dimasuki “pikiran waras,” sehingga bisa buru-buru mengakui kebohongan yang dilakukannya,” tambah orang yang duduk  dekat pintu masuk itu lagi.

“Kayaknya nenek Bu Ratna lupa mengingatkan petuah leluhur yang mengatakan mulutmu itu adalah harimaumu,” kata Dul Karung seraya meninggalkan warung begitu saja. ( Syahsr@gmail.com )