Friday, 14 December 2018

Belajarlah pada Kaum Difabel

Senin, 8 Oktober 2018 — 5:45 WIB
malas-banget

PERHELATAN Asian Para Games 2018 yang diikuti oleh 2.888 atlet dari 39 negara. Mereka kaum difabel yang secara fisik memiliki keterbatasan, namun punya kelebihan yang patut dibanggakan.

Tengoklah ketika atlet-atlet itu bertanding di masing-masing cabang olahraga (cabor). Betapa kemampuan mereka, jauh di atas orang yang fisiknya sempurna. Mereka gesit, semangat dan sportivitas tinggi, solidaritas tinggi dan saling menghargai.

Maka, jangan pernah memandang sebelah mata pada kaum difabel. Mereka tidak memiliki kekurangan. Mereka tidak butuh dikasihani. Karena mereka mandiri, mampu berprestasi sama dengan orang yang fisiknya normal. Bahkan tak sedikit penyandang disabilitas yang prestasinya melebihi orang yang memiliki fisiknya sempurna.

Dunia mengakui prestasi para penyandang disabilitas, baik mereka yang berkecimpung di dunia olahraga, seni, bisnis, dan bidang lainnya. Sebagai contoh, Nic Vujicic, pria Australia kelahiran 4 Desember yang tak memiliki kaki dan tangan. Dia telah melanglang buana ke puluhan negara atas prestasinya sebagai motivator sukses.

Di Indonesia, ada Habibie Absyah, pria kelahiran 1988 yang sukses sebagai internet marketing, penulis, dan motivator. Sejak usia 4 tahun, kedua kakinya lumpuh, tangan kiri tak berfungsi sementara tangan kanan hanya dua jari yang bisa digerakkan. Dengan dua jari itulah Habibie menelurkan banyak karya. Bisnis internet yang digelutinya mencapai omzet puluhan juta rupiah per bulan.

Di dunia ada banyak ‘Nic Vujinic’ ataupun ‘Habibie’ lainnya yang memiliki keterbatasan fisik, namun suskses di bidang yang digeluti. Mereka punya semangat juang tinggi dan selalu bersyukur atas karunia Tuhan. Mereka sadar, Allah maha adil. Di balik keterbatasan pasti ada kelebihan.

Lalu, bagaimana dengan yang punya fisik sempurna, tapi tidak bersyukur, dan bermalas-malasan dalam mengejar prestasi. Malu! -Irda