Saturday, 20 October 2018

Perenang Difabel

Jendi Panggabean Jadikan Motivasi Orang Tua Sebagai Penyemangat

Senin, 8 Oktober 2018 — 10:41 WIB
Jendi Panggabean, perenang difabel.(Instagram jendypangabean_akmal)

Jendi Panggabean, perenang difabel.(Instagram jendypangabean_akmal)

HIDUP adalah misteri ilahi dan Jendi Panggabean hanya manusia kebanyakan yang tak menyangka musibah justru mengantarnya pada kesempatan mengharumkan nama bangsa di ajang multievent olahraga terbesar se-Asia untuk kaum difabel, bertajuk Asian Para Games 2018. Motvasi dari orangtua jadi pengobar semangat lebih bagi Jendi untuk kembali mengibarkan Merah-Putih saat turun pada ajang yang akan dihelat di Jakarta pada 6-13 Oktober.

Turun pada empat nomor individual dan dua nomor estafet, Jendi tak mau sekadar berpartisipasi. Dia bertekad menyumbangkan medali bagi Indonesia. Jendi sadar meraih medali di level Asian Para Games bukan misi mudah. Banyak perenang-perenang hebat yang harus ditaklukkannya, terutama dari Tiongkok,Jepang, Korea Selatan hingga Kazakhstan. Namun, Jendi pantang menyerah sebelum bertanding. Dia selalu berusaha menyemangati diri sendiri.

Motivasi Diri

“Kalau untuk memotivasi diri dengan cara melihat catatan waktu, sudah sesuai target atau belum. Kalau belum ditingkatkan lagi,” kata perenang berusia 27 tersebut di Jakarta, belum lama ini.

Selain termotivasi untuk mempersembahkan medali bagi untuk Indonesia, Ia juga ingin membuat Indonesia bangga. Apalagi nanti bertanding di kandang sendiri dan disaksikan oleh masyarakat Indonesia. Ia bahkan berharap kedua orangtuannya bisa menyaksikan langsung perjuangannya di Asian Para Games 2018. Bagi Jendi, orangtua merupakan hal terpenting dalam hidupnya. “Mereka adalah pelecut semangat saya. Momen terbaik dalam hidup saya adalah jika bisa membahagiakan orangtua. Sejak saya jadi difabel, bagaimana pun kondisi psikis orang tua pasti terpengaruh,” ungkapnya.

Dengan alasan itulah, Jendi ingin kedua orangtuanya bangga dan juga bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Ambisi membahagiakan orang tua menjadi resep mengapa Jendi selalu bersemangat mengejar prestasi. Menurut Jendi, kebahagian tersebut sempat terenggut saat dirinya mengalami kecelakaan dan membuatnya kehilangan kaki kiri.  Peristiwa pahit tersebut terjadi saat Jendi masih duduk di SD kelas VI. Dia mengalami kecelakaan tunggal sepeda motor di Muara Enim, Sumatera Selatan. Posisi Jendi sedang dibonceng oleh salah seorang temannya.

“Saat itu teman saya hanya mengalami patah tulang, sedangkan kaki kiri saya hancur dan akhirnya harus diamputasi. Saat kehilangan kaki itu saya merasa menjadi orang gagal. Saya bukan memikirkan soal saya sendiri, tapi saya sedih karena melihat kesedihan orangtua saya. Tapi saya tidak ingin terus larut dalam penyesalan. Saya ingin mengembalikan senyum dan kebahagiaan di wajah kedua orangtua saya bahkan melebihi kebahagiaan saat saya masih punya kaki yang lengkap,” kenang putra pasangan Akmal Yasnudaya dan Misrawati tersebut.

Setelah pulih dari kecelakaan, Jendi melanjutkan sekolah dan bergaul seperti biasa seperti teman-teman. Ia mengatakan teman-teman di sekolah menerima dan menganggap dia seperti biasa yakni sebagai manusia yang normal. “Saya orang desa, terlahir di kampung Sumatera Selatan. Saya lanjut sekolah di Palembang, merantau sendiri. Tinggal kos bersama teman. Di sana (Palembang red), saya diperkenalkan olahraga disabilitas. Saya tahu punya bakat di air karena senang berenang. Dulu jarang berenang di kolam, tapi sungai,” ucapnya melanjutkan.

Karena sering berenang di sungai, Jendi merasa memiliki bakat berenang secara alami. Ia kemudian terjun ke dunia olahraga sebagai atlet dan bergabung bersama salah satu klub renang di Palembang agar bakatnya semakin terasah dengan baik. “Saya latihan dengan orang normal (tanpa disabilitas) dan program yang sama. Pernah suatu saat program latihan saya dengan atlet normal dibedakan, saya tidak mau. Dengan berlatih bersama atlet normal, otomatis saya termotivasi untuk mengimbangi kecepatan berenang,” ujar Jendi yang kemudian memiih untuk terus menekuni renang.

Usahanya itu pun membuahkan hasil. Jendi yang awalnya merasa minder dan kurang percaya diri, mampu membuang semua pesimisme dengan mencatat prestasi pertamanya pada Peparnas Riau 2012 lalu. “Saya dapat dua emas, satu perak, dan satu perunggu. Tahun itu juga masuk tim nasional. Tapi ada momen yang tak pernah bisa saya lupakan. Bapak dan ibu saya menangis bahagia saat saya meraih¬† medali emas pada Peparnas 2012 di Riau. Mereka langsung memeluk saya. Akhirnya mereka kembali bahagia,” ujar Jendi.

Sejak itu, Jendi terus menuai berbagai prestasi baik lokal maupun internasioal. Salah satunya pada ajang ASEAN Para Games yang hingga kini saya sudah mengumpulkan lima emas.

Selain itu, ia juga mendapat satu emas, satu perak, dan satu perunggu dalam kejuaraan di Berlin belum lama ini. Masih banyak impian yang ingin diraih Jendi, salah satunya kuliah. Namun, dia menunda dulu impian tersebut supaya fokus mengejar prestasi di kancah renang. Perenang kelahiran 10 Juni 1991 tersebut mengaku bukan tipe orang yang bisa mengerjakan dua hal besar sekaligus. (junius/bu)