Saturday, 20 October 2018

Kesehatan Jiwa Kita

Senin, 8 Oktober 2018 — 8:46 WIB

Oleh: HARMOKO

           “BANGUNLAH jiwanya /
           bangunlah badannya /
          untuk Indonesia Raya..”

DEMIKIANLAH petikan lagu kebangsaan kita – ‘Indonesia Raya’. Bapak pendiri bangsa (founding fathers) kita, yang menjadikan Republik Indonesia menjadi seperti sekarang – telah menyadari sejak jauh-jauh hari, betapa pentingnya jiwa kita dalam pembangunan bangsa.

Akan tetapi kini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, satu dari empat orang di dunia terjangkit gangguan jiwa atau ‘neurologis’. Saat ini, ada sekitar 450 juta orang mengalami gangguan mental. Hampir satu juta orang melakukan bunuh diri setiap harinya. Angka yang amat memprihatinkan.

Di Indonesia, negeri tercinta kita, gejala depresi dan kecemasan sudah diidap orang Indonesia sejak usia 15 tahun. Persentase depresi mencapai 6 persen atau sekitar 14 juta orang. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk atau sekitar 400.000 orang sebagaimana terungkap dari data Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) 2013 dikombinasi dengan data rutin dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin).

Sekitar 225 ribu rumah tangga di Indonesia memiliki anggota keluarga yang berkategori Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat. Sekitar 15 juta rumah tangga yang sudah dikunjungi oleh tenaga kesehatan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK), ada persoalan ODGJ berat di rumah tangga, angkanya sekitar 15 persen. Jadi terbayang ada sekitar 225 ribu rumah tangga yang di dalamnya ada ODGJ.

ODGJ ialah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran dan kejiwaannya sehingga berpengaruh pada perilaku. Sementara ODMK bisa berupa stress, tidak punya relasi sosial dengan yang lain, depresi, atau masalah lain yang memiliki risiko menjadi gangguan jiwa. Kemenkes melakukan berbagai upaya promotif dan preventif yang tujuannya untuk mengurangi ODMK dan mencegahnya menjadi ODGJ.

Dari laporan Human Right Watch Indonesia, masih ada 18.000 orang dipasung karena gangguan kejiwaan namun penyakitnya dianggap sebagai kutukan atau kerasukan setan.

Dan angka-angka di atas itu pun belum bisa mencerminkan gambaran secara keseluruhan persolan kesehatan jiwa di Indonesia.

Gangguan jiwa juga dipicu oleh faktor sosial, seperti kemiskinan, lingkungan, dan bencana alam. Tsunami di Aceh menyisakan depresi, dan gempa di Yogyakarta berdampak meningkatnya angka depresi masyarakat, dan tentulah yang terbaru gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala.

Peristiwa bencana alam akibat perubahan iklim ke depan akan terus meningkat, demikian ramalan BNPB menyebutkan. Artinya akan semakin banyak orang depresi dan terganggu kesehatan jiwanya.

Ganguuan jiwa yang menimpa orang dewasa dan orangtua sangat berpengaruh pada anakanak. Karena anak-anak rentan gangguan kejiwaan akibat pengalaman traumatis yang diterima dari otangtua sendiri, maupun di sekolah dan lingkungan masyarakat akibat perundungan atau ‘bullying’.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, tiap tahun angka kekerasan terhadap anak meningkat. Pada tahun 2017 saja terjadi 3.700 kasus, dan hampir 70 persen pelakunya adalah orangtua sendiri.

Sejauh ini, belum ada perhatian serius terhadap masalah kesehatan jiwa di Indonesia. Upaya penanganan terhadap orang dengan gangguan kejiwaan masih jauh dari harapan.

Dengan jumlah penduduk sekitar 260 juta jiwa, Indonesia baru memilki 451 psikolog klinis (0,15 per 100.000 penduduk), 773 orang psikiater 0,33 per 100.000 penduduk, dan perawat jiwa 6.500 orang atau 2 persen per 100.000 penduduk. Bahkan beberapa provinsi ada yang sama sekali belum mampu melayani gangguan jiwa.

Sedangkan standar dan rujukan WHO untuk tenaga psikolog dan psikiater dibanding jumlah penduduk adalah 1 per 30 orang.

Minat untuk menjadi terapis atau ahli yang berkecimpung di dunia kesehatan jiwa sangat kurang. Rumah sakit yang menangani kesehatan jiwa juga terbatas, demikian yang disampaikan para pakar yang mengangani ini.

Kesehatan jiwa tidak bisa kita abaikan. Dengan membangunkan jiwa, maka membangun fisik menjadi gerakan berikutnya. Bukan hanya jiwa yang sehat secara medik, waras dan berpikir jernih, namun jiwa perjuangan, jiwa kemandirian, jiwa kewirausahaan, perlu terus dibangun dan dibangkitkan. Karena demikianlah satu-satunya cara mengantarkan Indonesia menjadi negeri sejahtera, adil makmur di masa depan.

Untuk itu, perlu sinergi semua pihak, terutama keluarga agar kondisi gangguan jiwa tidak makin parah. Yang terjadi sekarang ini kebanyakan pasien diterapi sudah dalam kondisi parah. Demikian menurut para praktisi kesehatan jiwa.

Menyongsong Indonesia ke depan, perlu perhatian pemerintah dan kerja sama semua pihak untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat maupun pemangku kepentingan terhadap masalah kesehatan jiwa. (*)