Monday, 15 October 2018

Becak Merdeka di Ibukota Apa Mampu Saingi Ojek Online?

Selasa, 9 Oktober 2018 — 6:41 WIB
becak

DI Aceh dulu ada Aceh Merdeka, Papua ada Papua Merdeka, ternyata di Jakarta ada pula becak merdeka! Sejak Gubernur Anies memberi lampu hijau, angkutan ber-(B)ahan (B)akar (N)asi itu berjumlah sampai 1.685 buah. Pemprov DKI kini sedang merevisi Perdanya agar becak merdeka beroperasi. Tapi mampukah menyaingi ojek online?

Orang pintar bekerja pakai otak, orang tak berpendidikan pakai tenaga. Jika berpendidikan, pastilah melamar jadi PNS atau pekerja swasta. Atau pula jadi politisi partai apalah. Yang penting, bila berhasil duduk di DPRD atau DPR memungkinkan untuk menjadi OKB (Orang Kaya Baru).

Orang mau jadi tukang becak, juga karena pendidikannya rendah, atau bahkan tak pernah makan sekolahan. Di Jakarta Gubernur Ali Sadikin yang pertama kali melarang becak. Aturan DBB (Daerah Bebas Becak) itu berlaku seluruh DKI sampai Gubernur Ahok. Kalau ada becak berseliweran di pinggiran Ibukota, pastilah becak siluman.

Tapi sejak Jakarta dipimpin Gubernur Anies Baswedan, becak diberi lampu hijau. Karena itu sesuai dengan motto pemerintahannya, maju kotanya, bahagia warganya. Karena keberpihakan sang gubernur, kini di DKI ada pula asosiasi becak Sebaja (Serikat Becak Jakarta), dengan jumlah anggota 1.685.

Kata Ketua Sebaja Rasdullah, berkat kinerja Gubernur Anies, kini becak merdeka beroperasi, tanpa takut digusur (dirazia) lagi. Bahkan kini Pemprov DKI hendak merevisi Perda Ketertiban Umum No. 8 tahun 2007, sehingga becak Ibukota beroperasi secara halalan tayiban wa asyikan bagi pengayuhnya.

Berkat keberpihakan Gubernur Anies, kini di Ibukota ada kelompok “becak merdeka”. Ini mengingatkan dengan Aceh Merdeka di Aceh dulu maupun Papua Merdeka. Tapi bedanya, jika yang di Aceh dan Papua gerakan separatis, becak merdeka adalah gerakan orang ekonomi kritis. Mereka ini ingin merdeka cari nafkah tanpa harus diudak-udak Satpol PP.

Tapi mampukah kiranya becak bersaing dengan opang (ojek pangkalan) dan ojol (ojek online) semacam Gojek dan Grab. Gojek saja di Jabodetabek sudah berjumlah 50.000-an. Dibanding dengan becak, tarif mereka jauh lebih kompetitif dan lebih cepat lagi.

Diperkirakan becak itu akan terseleksi dengan sendirinya oleh teknologi. Masa jabatan Gubernur Anies selesai, selesai pula para penarik becak. Sebab diyakini, siapapun gubernur penerusnya takkan melanjutkan program kuno yang jaman Ali Sadikin saja sudah tak dikehendaki. – gunarso ts