Saturday, 20 October 2018

Jangan Telantarkan Korban Bencana

Selasa, 9 Oktober 2018 — 4:48 WIB

KEMENTERIAN Sosial kekurangan anggaran untuk memberi bantuan kepada korban gempa di Lombok, NTB. Informasi ini mengemuka setelah surat dari Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos, yang ditujukan kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat dan beredar luas di jejaring sosial.

Dalam surat itu dirjen meminta gubernur menginstruksikan bupati/walikota agar tidak menjanjikan kepada korban gempa sebagai calon penerima BSPS (Bantuan Stimulan Pemulihan Sosial), tentang rencana pemerintah memberi bantuan.

Alasannya, rencana penyaluran BSPS atau jaminan hidup bagi korban luka-luka dan bantuan isi hunian tetap sebesar Rp300 ribu/orang setiap bulan, masih proses perencanaan penganggaran. Selain itu alokasi anggaran bantuan sosial Tahun 2018 di Kemensos terbatas. Estimasi anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp107 miliar untuk 320 ribu jiwa.

Kondisi Kemensos yang ‘cekak’ anggaran semestinya tidak perlu diketahui oleh warga terdampak bencana. Karena dapat membuat bisa membuat mereka apatis dan skeptis. Mereka saat ini dalam kondisi lemah, trauma dan butuh bantuan untuk bisa bangkit kembali. Percepatan proses rehabilitasi dan rekonstruksi serta pemulihan sosial psikologis pasca bencana, sangat diharapkan masyarakat.

Warga yang terdampak bencana kini sangat menunggu realisasi janji pemerintah pusat untuk cepat memulihkan kondisi di wilayah mereka. Pemerintah semestinya tidak mengeluhkan anggaran. Sebaliknya, justru harus mencari solusi semisal diambil dari anggaran pos lain, atau dana on call.

Selain itu, bila Kemensos memang betul-betul sudah minim anggaran, bisa dilakukan koordinasi lintas instasi. Karena tanggungjawab memberi bantuan kepada korban bencana bukan hanya tanggung jawab satu lembaga saja.

Adanya instruksi tersebut membuat publik khawatir korban bencana baik di Lombok maupun di Palu (Sulteng) tidak tertangani dengan baik. Dalam situasi saat ini, warga terdampak bencana harus menjadi prioritas. Jangan biarkan mereka telantar dan menderita berkepanjangan. **