Monday, 15 October 2018

Jokowi Terima Kunjungan Deputi PM Malaysia Wan Azizah

Selasa, 9 Oktober 2018 — 19:49 WIB
Presiden Joko Widodo saat menerima kunjungan kehormatan Deputi Perdana Menteri Malaysia Wan Azizah Wan Ismail di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (9/10).(ist)

Presiden Joko Widodo saat menerima kunjungan kehormatan Deputi Perdana Menteri Malaysia Wan Azizah Wan Ismail di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (9/10).(ist)

JAKARTA  – Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Deputi Perdana Menteri Malaysia Wan Azizah Wan Ismail di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (9/10).

Dalam pertemuan tersebut, Presiden didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi, dan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid. Sementara Wan Azizah tampak didampingi oleh tiga orang delegasinya.

Dalam penjelasannya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan  kedatangan Wan Azizah ini merupakan kunjungan perkenalan dalam kapasitasnya sebagai Deputi PM Malaysia.

“Di dalam perbincangan tadi intinya adalah sebagai negara paling dekat, tetangga dekat serumpun, maka pemimpin Indonesia dan Malaysia sepakat untuk mengintensifkan komunikasi di antara para pemimpin kedua negara.

“Karena dengan komunikasi yang baik jika terjadi masalah maka akan lebih mudah menyelesaikan masalah tersebut,” kata Retno.

Menurut Retno, kedua pemimpin mengatakan bahwa hubungan Indonesia dengan Malaysia pada  kondisi yang sangat baik dan perlu terus ditingkatkan.

Dalam pertemuan itu,  Presiden juga menitipkan warga negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di Malaysia dalam diskusi tadi. “Kita juga bicara mengenai masalah pendidikan untuk anak-anak TKI kita yang ada di Malaysia,” lanjutnya.

Retno menuturkan bahwa untuk Sabah dan Sarawak saat ini Indonesia sudah memiliki community learning center (CLC), tetapi untuk Semenanjung belum ada.

“Karenanya,  Indonesia meminta agar CLC juga dapat dibentuk, atau ada di Semenanjung karena jumlah anak Indonesia yang tinggal di sana cukup banyak,” terang Retno yang juga mantan duta besar Indonesia untuk Belanda.

Kepala BNP2TKI Nusron Wahid menambahkan bahwa pemerintah Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Malaysia, yang sudah memberikan izin sekitar 59 CLC di kawasan Serawak dan Sabah yang total muridnya sekitar 84.000.

“Di kawasan Semenanjung, ada sekitar 40 ribuan anak-anak Indonesia terutama di sektor konstruksi. Karena itu, kita meminta ke pemerintah Malaysia untuk dikasih kesempatan, izin mendirikan CLC di kawasan Semenanjung, untuk kawasan Kuala Lumpur, Johor, dan Penang. Boleh dikelola oleh pemerintah langsung lewat KBRI, KJRI, atau dikelola oleh kelompok masyarakat yang ada di Malaysia,” kata Nusron. (Johara/win)