Saturday, 15 December 2018

Menyerang Pribadi Kapolri, Amien Rais Dianggap Sedang Panik

Kamis, 11 Oktober 2018 — 16:43 WIB
Amien Rais. (yendhi)

Amien Rais. (yendhi)

JAKARTA – Serangan terhadap Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian oleh Amien Rais dianggap sebuah bentuk kecemasan. Mantan kuasa hukum Rizieq Shihab Kapitra Ampera menyatakan, serangan kepada Kapolri  itu tidak memiliki hubungan dengan kasus penyebaran hoaks Ratna Sarumpaet.

“Itu Amien Rais ketika dipanggil, panik. Dulu dia dipanggil KPK, bubarkan KPK. Dipanggil polisi, copot Tito. Ini kan tidak ada korelasinya,” ujarnya di Posko Cemara Jalan Cemara No 19, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/10/2018).

Menurutnya tidak ada kaitan antara pemanggilan mantan Ketua MPR itu dengan Tito. Kapitra mengatakan Tito tidak memiliki kewenangan memanggil seseorang dalam pemeriksaan.

Kapitra Ampera (kedua dari kanan).

Pemanggilan Amien Rais sebagai saksi oleh kepolisian juga sebagai  langkah tepat mengingat dia hadir dalam konferensi pers bersama Prabowo Subianto saat menyikapi isu penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet.

“Ini kan Amien Rais jelas konkrit berada pada tempat konferensi pers pengakuan Ratna dianiaya.  Dia wajib jadi saksi siapapun yang ada di tempat jadi saksi, termasuk Prabowo. Kalau itu diperlukan penyidik,” imbuhnya.

Lebih lanjut calon anggota legislatif dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan itu menambahkan sikap Amien yang meminta jabatan Tito dicopot merupakan serangan secara pribadi ke mantan Kapolda Metro Jaya itu.

“Ketika dia dipanggil dia mengeluarkan attack to personal,   menyerang seolah-olah ada aliran dana ke Tito atau sebagainya. Dan dia tidak punya bukti itu. Saya cek ke KPK, KPK juga menyesali itu. Apa itu? Itu kan sampah yang dia sebarkan menjadi virus-virus fitnah, padahal dia diperlakukan sangat baik. Kekhawatiran dia, kecemasan dia kan tidak terbukti,” paparnya.

Kapitra mengungkapkan akibat pernyataan tersebut, banyak dari masyarakat dan anggota Polri marah.  “Kenapa harus menyerang ke personal dan kepolisian. Ini membuat empati orang lari. Banyak masyarakat dan anggota kepolisian marah,” pungkasnya. (ikbal/win)