Thursday, 15 November 2018

Warga Keluhkan Kondisi JPO Tanjung Barat, Takut Ambruk

Kamis, 11 Oktober 2018 — 18:47 WIB
Seorang ibu hamis ngos-ngosan saat melintas di JPO Tanjung Barat.  (m12)

Seorang ibu hamis ngos-ngosan saat melintas di JPO Tanjung Barat. (m12)

JAKARTA –  Pengguna Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) di Stasiun Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan  mengeluh.  Pasalnya di JPO tersebur sejumlah bautnya copot, selain itu juga tidak ramah untuk warga prioritas seperti ibu hamil, penyandang disabilitas, dan lansia.

Berdasarkan pantauan Poskota ada beberapa baut yang copot dan kendor sehingga terdengar bunyi dari lempengan besi beberapa anak tangga JPO itu saat diinjak. Akibatnya,  jika dilewati selain brisik juga di khawatirkan akan tiba-tiba copot.

“Lempengan besi itu yang menjadi pijakan tak terpasang dengan rapat ke penyangganya, dan menyisakan permukaan yang tak rata. Apabila dilalui bunyi dan kami khawatir tiba-tiba copot, “terang Hanung, Kamis (11/10).

Diakui warga Tanjung Barat,  Pasar Minggu,  ini bunyi yang nyaring ini sudah cukup akrab di telinga masyarakat yang terbiasa menggunakan JPO ini. Namun banyak dari mereka tidak menyadari asal bunyi tersebut dan seolah tak acuh memerhatikan adanya baut-baut yang copot di JPO.

“kadang bunyinya berisik banget kalau dilewati, tapi nggak tahu karena apa. Karena kalau dilihat emang masih bagus.” ucap, Fajar Kurniawan warga lainnya.

Dia juga merasa terganggu dengan JPO Tanjung Barat, yang menghubungkan dengan stasiun. “Kalau diperhatiin dengan seksama emang bikin was-was, takut kejadian seperti di JPO Pasar Minggu, lama-lama ambruk.” tambahnya (23).

Hal lainya yang di keluhkan warga adalah JPO yang tidak ramah untuk ibu hamil, penyandang disabilitas, dan lansia. Sebab JPO yang menghubungkan jalan Tanjung Barat Raya dan Jalan Lenteng Agung Raya cukup tinggi dan agak curam, sehingga menyulitkan mereka.

Keluhan ini pun diungkapkan oleh ibu hamil, Wida. Ia mengaku ngos-ngodan saat lewat di jembatan tersebut karena terlalu tinggi.

“Ngos-ngosan saya setiap menggunakan JPO, tinggi banget dan ngeri kepeleset, juga misalkan mau ke arah sebrang, jalanha jauh banget bikin capek.” ujar Wida, sembari mengatur nafas.

Warga lainnya, Sudarmi,56, juga merasakan hal yang sama. Ia mengaku sudah tua  harus berhenti terus saat naik tangga dan pegangan yang kuat karena kecapekan. “Pernah waktu itu ada anak muda yang buru-buru harus nungguin saya yang jalannya pelan-pelan.” jelasnya.

Atas kondisi inilah mereka kepada pengelola memikirkan alternatif lain atau membuat fasilitas khusus untuk lansia, ibu hamil, dan disabilitas agar bisa menyebrang lebih mudah dan aman. (wandi/m12/win)